Jumat, 05 Desember 2014

Me, You and Her #Part2



* * *

Di sekolah...

Aku berjalan menuju kelasku. Melewati lorong-lorong kelas. Aku masih berfikir hal tadi hingga aku tak memperhatikan jalan. BRUUK... aku menabrak seseorang di lorong. Buku-buku yang ku bawa berserakan. Dia mengambilnya. Begitupun denganku yang ikut membantunya.
"maaf..." kataku dengan nada bersalah.
"no problem" jawabnya. "Ivonne? ada apa denganmu ?" tanyanya padaku. Aku menoleh padanya.
"Justin?" tanyaku yang tak percaya. "No, Nothing!" jawabku dengan singkat.

Dia Justin Bieber, sahabatku. Bahkan dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia juga kapten basket di sekolahku. Sudah lama aku menyukainya. Bahkan aku sampai mencintainya. Tapi sayang kehidupannya yang perfect sebagai kapten tim basket sekolah membuatnya banyak di kelilingi wanita-wanita cantik. Tak apalah, setidaknya aku lebih beruntung daripada mereka. Aku bisa setiap saat bersamanya. Bahkan aku duduk satu meja denganya. Kini aku dan Justin beriringan berjalan ke kelas.

Aku membantunya membawa setengah buku-buku yang dia bawa. Eh... tunggu bukan setengah tapi seperempatnya. Di kelas, aku duduk di sebelahnya. Keringat bercucuran di dahiku. Berat. Ya, buku yang ku bawa tadi lumayan berat. Pantas saja dia hanya memperbolehkanku membawa seperempatnya. Dia mengeluarkan sapu tangan ungu miliknya dengan inisial 'JB' di salah satu sudutnya. Dia mengelap keringatku itu.

"lumayan beratkan, bukan?" katanya masih mengelap keringat di dahiku. Aku tersenyum kecil. Ku ambil sapu tangan dari tangannya. Lalu menyeka seluruh wajahku yang berkeringat. Dia melihatku.
"tak seperti biasanya kau diam seperti ini. Ada masalah?"

Aku menggeleng pelan. Dia memang lebih mengerti aku di banding dengan kedua orang tuaku. Aku selalu menceritakan masalah apapun padanya. Ya walau dia hanya bisa memberi saran-saran yang kadang tak masuk di akal. Tapi aku memakluminya. Dia bukan wanita yang punya perasaan peka.

* * *

Lima bulan telah berlalu. Orang tuaku benar-benar bercerai. Sekarang mama telah pindah ke apartemennya. Sedangkan aku dan papa di rumah lama kami. Tapi bisa kapan saja aku ke aparteten mama yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. Beberapa hari belakangan ini papa sering mengajak Elena, sekertarisnya untuk makan malam bersama di rumah. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Oh God apalagi ini? fikirku. Sudahlah mungkin Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku.

Setelah pembicaraan waktu itu, Aku tak menyangka, papa benar-benar menikah dengan Elena, sekertarisnya dua bulan yang lalu. Masa bodoh dengan status dia yang sudah menjadi istri papaku bahkan menjadi mama tiriku. Sekali tidak menyukainya tetap saja aku tak menyukainya, walau aku sudah mencoba untuk menyanyanginya seperti menyayangi mama kandungku. Mustahil. Dua bulan sudah dia menjadi pengganti mama. Tapi lidah ini terasa sangat berat untuk memanggilnya dengan sebutan 'MAMA'. Atau sebutan MAMAtak cocok untuknya. Si wanita jalang penggoda suami orang.

* * *

Pagi ini aku sudah duduk di meja makan bersama dengan si wanita jalang ini. Pagi ini aku tak melihat papa sarapan bersamaku. Ku putuskan untuk bertanya. Walau lidahku berat untuk bicara padanya.

"papa mana? Dia tak ikut sarapan ?" tanyaku padanya.

"papa sudah berangkat tadi pagi-pagi. Ada meeting di kantor" jawabnya singkat lalu kembali meneruskan sarapannya lagi.

"Baiklah,  aku berangkat!" kataku pergi meninggalkannya. Aku berjalan kaki menuju sekolah. Sepeda kesayanganku kempes bannya dan aku belum sempat memompanya. 

Tiiiin... Tiiiin... Suara klakson mobil di belakang membuatku geram. Aku menoleh. Apa sih maunya orang di dalam mobil itu? gerutu ku. Mobil itu itu berhenci tepat di hadapanku. Yang mengendarainya keluar. It's amazing. MAMA kandungku. Aku berjingkrak gembira.

"mama?" kataku cepat.
"ayo naik nanti telat !" ujarnya.
aku segera berlari masuk dalam mobil sedan hitam metalik miliknya. Mengecangkan sabuk pengamanku dan tancap gas. Mobil berjalan menuju sekolahku.

"papamu kemana? Kenapa tak mengantarmu? Lalu bagaimana dengan mama tirimu?" tanya mamaku bertubi-tubi.

"papa sudah berangkat pagi-pagi karena ada meeting. Dia hanya duduk berlihai di sofa sambil menonton tv. Hidupnya bagai Nyonya besar saja" ujarku degan nada kesal.

"sungguh keterlaluan dia. Lebih baik kau tinggl bersama mama di apartemen. Kau tak usah repot-repot melihat wajahnya yang menjengkelkan itu" tawarnya padaku, aku menggeleng pelan.

"tidak ma. Aku akan mengawasi tingkahnya di rumah. Setidaknya aku mengetahui apa yang dia lakukan di belakang papa selama ini" aku menolak tawaran mama. Mama mengerti.

* * *

di kelas...



created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03


Me, You and Her #Part1


Stella Hudgens as Ivonne Shasmita
Justin Bieber as him self
Caitlin Beadles as her self

---- 

Namaku Ivonne Siva Shasmita. Gadis berusia 17 tahu yang tinggal di Georgia, Atlanta. Aku anak dari Andra Shasmita, seorang pengusaha ternama di Atlanta. Hidupku tak pernah indah semenjak kedatangan wanita jalang yang merusak pernikahan kedua orang tuaku. Suatu hari aku berjalan melewati kamar kedua orang tuaku.
"sudahlah kau mengaku saja! Kalau kau dan dia tak ada hubungan buat apa kau memeluknya?" bentak suara itu. Suara mama ku.

"aku tak memeluknya tapi dia yangg memelukku!" elak papaku.
"sudahlah tak perlu mengelak. Jelaskan saja semuanya padaku!" kata mamaku degan emosi.
"CUKUP!!" papa membentak keras "lebik baik kita sudahi semuanya"
"ya lebih baik begitu"  ujar mama "Aku sudah tak tahan dengan sikapmu yang selalu bermain di belakangku. Entah untuk yang keberapa kali kau membohongiku" suara itu makin mendekat.Aku beranjak pergi agar mereka tak mengetahui bahwa aku menguping pembicaraan mereka. Tak terasa air mata membasahi kedua pipiku.

Beberapa hari telah berlalu. Seperti biasanya aku turun membawa tas sekolahku. Semenjak kejadian itu aku menjadi pendiam. Aku duduk di ruang makan bersama mama dan papaku. Ku lihat mereka yang saling diam. Mungkin mereka masih perang dingin fikirku. Hingga mamaku memecah keheningan di antara kami.

"Ivonne" mamaku memanggil. Aku menoleh padanya sembari mengunyah roti selai yang mamaku berikan. "mama akan pindah, nak" lanjutnya.

Aku berhenti mengunyah dan berusaha menelan roti yang aku makan. Susah memang. Ekspresi wajahku kaget."kita akan pindah kemana ma?" tanyaku penasaran.

"bukan kita sayang, tapi mama" jelas mama dengan menekankan kata yang di bicarakannya.
"lalu aku dan papa?"

"kalian di sini !" jawabnya singkat. "mama akan bercerai dengan papa" seraya ada yang mengganjal tenggorokanku, aku batuk-batuk. Mama memberikan segelas minuman padaku. "kalau makan pelan-pelan sayang" ujarnya lembut.

"apa ma, CERAI?!" kagetku walau terlambat. Entah apa lagi yang harus ku katakan. Aku betul-betul tak menyangka. Mereka benar-benar akan bercerai. Lalu bagaimana denganku? Apa mereka tak memikirkan sedikit perasaanku. Aku bangkit meninggalkan mereka di meja makan tanpa berkata sedikit pun pada mereka. Aku pergi ke sekolah. Hatiku hancur lebur. Apa penyebab mereka bercerai? tanyaku sendiri.

* * *

Di sekolah...



created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03


Sabtu, 29 November 2014

RINDU

Aku tak mengerti, apa yang terjadi kepadamu. Kamu yang sekarang adalah kamu yang berbeda, kamu yang tak aku kenali, dan kamu yang bagaikan orang asing di mataku. Aku tak tahu apa yang membuatmu jadi seperti ini. Aku lebih suka kamu yang dulu, kamu yang begitu perhatian, kamu yang selalu ada, dan kamu yang menyayangiku. Aku rindu masa-masa itu, semakin rindu jika melihat sikapmu yang semakin hari semakin berbeda. Aku tak tau harus berbuat apa lagi agar kamu mengerti. Semua yang aku rasakan, sudah berkali-kali aku katakan kepadamu, tapi kamu tetap saja menghiraukanku dan semua rasa sakit dan kekecewaanku.

Dulu kamu tak begini, dulu kamu orang yang selalu ada saat aku membutuhkanmu, selalu ada di sisiku saat aku terpuruk, selalu menggenggam tanganku saat aku mulai tidak kuat akan semua masalah yang menderaku, dan dulu tangganmulah yang selalu setia menghapus semua tetes air mata yang jatuh dan mengalir di pipiku.

Apakah kamu masih ingat masa-masa indah yang telah kita lewati bersama? kamu ingat pertama kali kamu menggenggam tanganku? Mengantarkanku pulang? Dan pertama kali melakukan hal gila namun begitu indah, hal gila yang tak mungkin aku sebutkan dan ceritakan disini, hal-hal gila itu cukup aku dan kamu saja mengetahuinya. Jujur saja, aku rindu hal-hal gila itu, hal gila yang tak pernah aku rasakan lagi sekarang.

Aku ingat semua hal yang telah kita lakukan dan kita lewati bersama. aku ingat semua itu, aku ingat hingga bagian terkecilnya. Aku ingat saat kita terjebak hujan di ATM, awalnya aku kira ini akan membosankan, bagaiman tidak membosankan, kita terjebak selama berjam-jam di ATM dengan cuaca yang tidak bersahabat, hujan lebat, angin besar, dan petir dimana-mana. Tapi aku senang, aku senang karena saat itu aku terjebak hujan bersamamu. Ya kamu, orang yang aku sayangi. Aku senang bisa berlama-lama bersamamu pada saat itu, menghabiskan waktu lebih lama dan lebih lama lagi. Tak ada kata bosan jika aku bersamamu.

Tapi sekarang, jangankan menghabiskan waktu bersama, sms, bbm dan telepon pun sudah jarang. Bertemu kamupun sekarang sudah sulit, padahal dulu setiap hari aku selalu bisa bertemu dan melihatmu dengan begitu jelas dan dekat. Dulu sama sekali tidak ada jarak di antara kita, dulu kita kemana-mana selalu bersama, dan selalu menghabiskan waktu bersama. Dan dulu  aku selalu ikut kemanapun kamu pergi, tapi sekarang kemanapun kamu pergi aku tak boleh ikut.


Aku selalu bilang “aku rindu kamu yang dulu”, ya memang aku merindukan kamu dan kita yang dulu. Aku selalu rindu masa-masa itu, masa-masa indah yang sekarang sudah hilang entah kemana, masa-masa indah yang tak pernah lagi aku rasakan. Kapan kita bisa kembali seperti dulu? Apakah semua itu tak akan pernah lagi aku rasakan? Apakah semua itu hanya akan menjadi kenangan? Aku tak membutuhkan kenangan indah jika itu bener-bener akan menjadi kenangan! Yang aku ingingkan hanyalah agar bisa terus bersamamu.

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716

Kelas  : 2EA03

Selasa, 25 November 2014

PENGABAIANMU


Aku yang sekarang sudah mulai sayang dan takut kehilangan, mencoba untuk memperthankan kebersamaan kita agar hubungan ini baik – baik saja dan mencoba mengerti dengan segala kesibukanmu yang membuatmu lupa akan hadirku, mencoba memahami semua perubahan sikap yang terjadi padamu dan mencoba sabar atas segala hal yang akhir – akhir ini membuatku penat akan semuanya.

Kepenatan yang sudah meracuni otakku ini membuatku lepas kendali, membuatku tidak dapat lagi mengontrol segala tindakanku. Aku yang membutuhkan perhatianmu tapi kau malah mengabaikanku, membiarkanku berjalan sendiri tanpa arah dan tujuan yang jelas. Aku tidak terbiasa seperti ini, seperti anak kecil yang tersesat dari ibunya. Aku butuh kamu untuk menuntun jalan dan arah tujuanku, aku ingin kita selalu berjalan berdampingan seperti dulu.

Apakah kamu ingat semua kenangan yang telah kita lewati bersama? Kita menangis dan tertawa bersama, dan telah melewati segala suka dan duka yang kita hadapi. Di saat aku sedih dan terpuruk akan semua masalah yang telah menderaku, kau selalu ada disisiku, selalu menemaniku tanpa enggan beranjak sedikitpun untuk meninggalkanku. Dan di saat kamu yang terpuruk, aku selalu ada disisimu dan memberimu semangat. Aku rasa kita telah saling melengkapi satu sama lain. Tapi kenapa sekarang semua sikapmu telah berubah?

Genggaman tanganmu dan hangatnya pelukmupun tak pernah lagi aku rasakan, bahkan tak ada lagi tangan yang menghapus setiap tetes air mata ini, tak ada pelukan yang membuatku tenang dan membuatku nyaman, yang mebuat tangisku sedikit mereda, yang membuatku sadar bahwa kamu bener – bener ada dan nyata. Tapi dengan sikapmu yang sekarang, aku malah berpikir kalau kamu semu dan tak pernah nyata, kau bagai bayangan di waktu senja, yang semakin lama akan semakin menghilang di telan oleh gelapnya malam.

Mungkin kamu sudah lelah dengan segala sikap pencemburu ku? Atau sikap Overprotektif ku akhir – akhir ini? Harusnya kamu tau aku seperti itu karna aku tidak mau kehilanganmu, kehilangan orang yang jelas – jelas aku cintai. Tapi mungkin caraku salah, terlalu menggenggammu hanya akan membuatmu semakin jenuh dan menjauh, semakin membuatmu tertekan dan terkekang. Tapi aku harus bagaimana? Harus diam dan menahan semua kesakitan ini sendirian? Aku hanya wanita biasa yang belum cukup dewasa dalam mengatasi masalah – masalah seperti ini.

Salahkah aku jika aku berharap untuk tetap menginginkan kamu yang dulu tanpa ada perubahan sedikitpun? kamu yang begitu menyayangi dan memperhatikanku dengan setulus hatimu, yang selalu bisa membuat senyum di wajahku. Bukan kamu yang sekarang, yang begitu cuek dan bahkan cenderung tidak perduli padaku, dan bukan kamu yang sekarang yang selalu mebuat tangis di wajahku.

Aku membutuhkanmu, sangat membutuhkanmu, aku tak kuat jika terus menerus seperti ini, di abaikan oleh orang yang jelas - jelas aku sayangi. Mengapa kau begitu tega? Mengapa kau melakukan ini semua? Mebuatku jatuh cinta tapi pada akhirnya justru membuat luka.

Berapa banyak tetesan air mata lagi yang harus jatuh dari mataku ini agar kamu mengerti perasaanku, bahwa AKU SANGAT MENCINTAIMU. Kamu seakan – akan tak perduli dan tak menghiraukannya. Apa sekarang hanya aku yang mencintaimu dan berjuang untuk mempertahankan semua ini sendirian? Jika kamu memang sudah tak mencintaiku dan tak menginginkanku lagi, aku akan coba mengerti, aku akan coba untuk menghilangkan rasa sayang yang sudah terlanjur sangat mendalam terhadapmu. Mungkin sulit bagiku untuk benar – bener menghilangkan semua perasaan ini, karena sosokmu sudah sangat melekat dihati dan pikiranku.


menjauh dari kehidupanmu, dan berusaha menahan diri untuk tidak lagi memperdulikanmu apakah aku sanggup?



Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03

SELEMBAR KERTAS PUTIH


Seekor anak beruang suka mencari-cari kesalahan. Dengan cekatan, ia akan mampu menunjukkan kesalahan teman-teman dan orangtuanya. Bahkan jika sesuatu terjadi pada dirinya, maka ia menyalahkan teman dan orangtuanya. "Aku jatuh karena Ayah meletakkan ember di sembarang tempat," kata beruang kepada ayahnya saat ia terjatuh di kamar mandi.

"Kamu mengalami musibah ini karena kamu tidak berhati-hati. Oleh karena itu, kalau berjalan harus hati-hati," kata anak beruang kepada seekor kijang yang terkilir kakinya.

Pada suatu hari, anak beruang berjalan-jalan di pinggir hutan. Matanya tertuju pada sekelompok lebah yang mengerumuni sarangnya. "Wah, madu lebah itu pasti sangat manis. Aku akan mengambilnya. Aku akan mengusir lebah-lebah itu!" Ia pun mengambil sebuah galah dan menyodok sarang lebah itu dengan keras. Ribuan lebah merasa terusik dan menyerang anak beruang. Melihat binatang kecil yang begitu banyak, anak beruang lari terbirit-birit. Lebah-lebah itu tidak membiarkan musuhnya pergi begitu saja. Satu ... dua ... tiga, lebah-lebah menghajar dengan sengatan. "Aduh ..... tolong ..... !" Byur!! Beruang menceburkan dirinya ke sungai. Tak lama kemudian, lebah-lebah itu pergi meninggalkan anak beruang yang kesakitan.

"Mengapa Ayah tidak menolongku? Jika Ayah sayang padaku, pasti sudah berusaha menyelamatkanku. Semua ini salah Ayah!" Ayah beruang diam sejenak, lalu mengambil selembar kertas putih. "Anakku, apa yang kamu lihat dari kertas ini?" "Itu hanya kertas putih, tidak ada gambarnya," jawab anak beruang.

Kemudian, ayah beruang mencoret kertas putih dengan sebuah titik berwarna hitam.

"Apa yang kamu lihat dari kertas putih ini?" "Ada gambar titik hitam di kertas putih itu!"
"Anakku, mengapa kamu hanya rmelihat satu titik hitam pada kertas putih ini? Padahal sebagian besar kertas ini berwarna putih. Betapa rnudahnya kamu melihat kesalahan Ayah! Padahal masih banyak hal baik yang telah Ayah lakukan padamu." Ayah beruang berjalan pergi meninggalkan anaknya yang duduk termenung.

Pembaca, mari kita belajar mengoreksi diri sendiri sebelum kita menyalahkan orang lain. Jangan hanya melihat sisi buruk suatu masalah, tetapi kita perlu juga melihat sisi baiknya. Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui? Jangan jadi anak beruang, jadilah manusia!



Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03

C I N T A


Salah satu pasien favorit kami terbiasa keluar masuk rumah sakit kecil setempat, dan kami semua dari bagian bedah telah begitu mengenal dia dan suaminya. Meski menderita kanker yang mematikan disertai derita sakitnya, tak pernah ia lalai memberi kami senyum atau dekapan.

Setiap kali suaminya bertamu, ia langsung begitu suka ria seakan bara menyala... Suaminya seorang pria yang baik, sangat sopan dan ramah bersahabat sama seperti istrinya itu. Saya telah begitu terbiasa dan seakan terikat pada mereka dan bahkan selalu merasa senang merawatnya.

Sangat kukagumi ekspresi cinta kasih mereka. Setiap hari, ia membawakannya bunga-bunga segar dan sebuah senyuman, lalu ia duduk diranjangnya sambil berpegangan tangan dan berbicara pelan-pelan. Ketika sakitnya terlalu keras dan ia menjerit atau jadi bingung, suaminya merangkulnya lembut disertai bisikan-bisikan hiburan sampai ia tertidur. Ia menghabiskan setiap saat yang ada disamping tempat tidurnya, memberinya sedotan-sedotan air minum dan membelai keningnya. Setiap malam, sebelum ia kembali pulang, ia menutup pintu sehingga mereka bisa tinggal berduaan saja. Ketika ia sudah pergi, kami lihat istrinya tertidur damai dengan sebuah senyum dibibirnya.

Tapi pada malam ini, keadaannya menjadi lain. Segera setelah aku melapor hadir, perawat harian yang bertugas memberitahu bahwa keadaannya menjadi makin memburuk saja dan dikuatirkan tak akan kuat bertahan sampai esok. Meskipun aku sedih, aku tahu ini yang terbaik. Setidaknya sahabatku ini tidak perlu menderita sakit lebih lama lagi.

Aku tinggalkan kantor dan pergi memeriksanya dulu. Waktu aku memasuki kamarnya, ia membangunkan diri dan bersenyum lemah, tetapi pernapasannya sudah berat dan aku bisa mengira ini tak kan tahan lama. Suaminya duduk disampingnya, tersenyum, dan juga berkata "Kekasihku dan Cintaku akhirnya akan menerima pahalanya"

Mataku mulai membasah, jadi aku tanya apakah ada sesuatu yang diperlukan dan cepat-cepat menghilang. Aku tawarkan perawatan dan hiburan sepanjang malam itu, dan sekitar tengah malam ia meningggal dunia, didampingi suaminya yang masih memegangi tangannya. Aku menghiburnya dan dengan air mata menuruni pipinya ia berkata, "Tolong, izinkan aku tinggal sebentar lagi bersamanya, tolong, boleh ya..?" Aku mendekapnya dan menutup pintu dibelakangku.

Aku berdiri diluar pintu, menghapus air mataku dan merasakan kehilangan sahabatku dan senyumnya. Dan aku bisa merasakan sakit pedih suaminya dalam hatiku sendiri. Tiba-tiba dari dalam kamar itu terdengar bunyi nyanyian suara pria terindah yang pernah kudengar.? Kedengarannya begitu mencekam - seram, hampir-hampir menegakkan bulu roma - ketika suara itu menggema, beralunan melewati lorong-lorong dan serambi-serambi. Para jururawat lainnya keluar melongok dilorong mendengarkannya menyanyikan lagu "Beautiful Brown Eyes" yang seakan meledak keluar dari paru-parunya.

Ketika lagu itu mulai berakhir dan suaranya menghilang, pintu kamar terbuka dan ia memanggilku. Ia menatap dalam-dalam mataku, merangkulku, katanya, "Dari sejak hari pertama kami bertemu, lagu itu kunyanyikan untuknya setiap malam. Biasanya aku tutup pintu dan mengecilkan suara agar tak sampai mengganggu pasien-pasien lainnya. Tapi malam ini aku inginkan kepastian bahwa ia mendengarkanku selagi dalam perjalanan kesurga. Ia harus tahu bahwa ia selamanya akan menjadi cintaku. Mohon mintakan maaf pada pasien-pasien lain yang merasa terusik. Aku benar-benar tak tahu bagaimana nantinya tanpa dia, tapi aku akan terus menyanyikan lagu padanya setiap malam. Kau pikir ia akan mendengarku?"

Aku mengangguk mengatakan "iya", tak berdaya menahan air mataku. Ia merangkulku lagi, mengecup pipiku, mengucap terima kasih telah menjadi perawat sekaligus sahabat mereka. Ia berterima kasih juga kepada perawat lainnya, lalu berbalik dan berjalan menelusuri balai, punggungnya agak membungkuk, dan dengan lembut menyiulkan lagunya itu. Sambil mengawasinya berjalan pergi aku berdoa semoga aku, juga, suatu hari bisa mengenal jenis cinta kasih kekal seperti itu.



Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03



BE FRIEND


Blue jeans , jaket coklat dan sepatu kats putih yang kau kenakan di sore mendung ini. Mataku yang sejak lalu mencari dirimu tetapi hanya bisa menangkap bayangmu saja lalu mengikutinya dari belakang. Tapi kali ini di sore hari yang sedang di dera mendungnya cuaca, aku melihatmu bukan hanya bayangmu dan aku kini berada tepat di depanmu. Tak sedikitpun aku tunjukan yang sesungguhnya terjadi. Aku hanya berlalu pergi meninggalkanmu berpura-pura mampu tak melihatmu. Berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun terus berjalan dibimbing angin sore yang dingin dan mulai terasa menusuk tulang seperti dia yang sempat membuat rasa kecewa yang menusuk sedalam dinginnya angin di sore  ini.

Yang sebenarnya ingin aku lakukan adalah menatapmu dan tersenyum tapi tak bisa. Cahaya pagi telah mengambilnya dari awal hari  sehingga sore ini tak ada sedikit kesempatanpun utukku. Aku memang tidak mempunyainya kesempatan seperti sejumput rumput di gurun pasir. Tak ada sedikitpun ruang dan lahan untuk sejumput rumput kecil ini di situ. Hanya matahari yang bersinar terik seterik dia yang kau pilih untuk menyinarimu. Akhirnya aku benar-benar menghilang di sore itu meninggalkan dia sendiri bukanya aku benci . Aku hanya lelah aku sangat lelah mencoba sekuat tenaga dan sekuat hati untuk menanam rumput kecil di gurun pasir. Dan aku tau untuk bunga yang indah saja tak punya sedikitpun ruang untuk hidup bahagia di gurun apalagi sejumput rumput kecil ini. Langkah kaki semakin menjauh rintik hujan berdatangan, langit mulai meruntuhkan banyak air.

setelah cukup jauh dari keberadaanmu ku putarbalik langkahku, aku berlari kembali ke tempatmu dan berlari secepat mungkin untuk sampai. Setelah sampai aku melihat seorang yang sedang menangis diantara hujan sehingga air matanya tak terlihat, tapi aku tau kalau ia menangis cukup deras. Berjalan pelan ke arahnya dan terseynum membimbingnya ke tempat aman bagaikan angin sore yang menuntunku tadi. "Kau kembali?"
  
"Ya ternyata sore ini masih memberiku kesempatan untuk cepat berlari kembali ke sini"
"Tapi kenapa kenapa kau malah kembali aku telah membuatmu kecewa?"
"Memang rumput tak bisa tumbuh di gurun, tapi jika ada oase bening yang membuatnya tumbuh?"
"Ya tapi hanya di sekitanya sajakan?"
"Tentu" 


Kami berdua pun tersenyum bersama dan berjabat tangan intinya kita hanya bisa berteman. Menjadi teman akan lebih baik dari apapun teman adalah hal yang terindah untukku maka dari itu jadilah temanku agar kau bisa menjadi yang terindah untukku.

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03