Jumat, 05 Desember 2014

Me, You and Her #Part2



* * *

Di sekolah...

Aku berjalan menuju kelasku. Melewati lorong-lorong kelas. Aku masih berfikir hal tadi hingga aku tak memperhatikan jalan. BRUUK... aku menabrak seseorang di lorong. Buku-buku yang ku bawa berserakan. Dia mengambilnya. Begitupun denganku yang ikut membantunya.
"maaf..." kataku dengan nada bersalah.
"no problem" jawabnya. "Ivonne? ada apa denganmu ?" tanyanya padaku. Aku menoleh padanya.
"Justin?" tanyaku yang tak percaya. "No, Nothing!" jawabku dengan singkat.

Dia Justin Bieber, sahabatku. Bahkan dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia juga kapten basket di sekolahku. Sudah lama aku menyukainya. Bahkan aku sampai mencintainya. Tapi sayang kehidupannya yang perfect sebagai kapten tim basket sekolah membuatnya banyak di kelilingi wanita-wanita cantik. Tak apalah, setidaknya aku lebih beruntung daripada mereka. Aku bisa setiap saat bersamanya. Bahkan aku duduk satu meja denganya. Kini aku dan Justin beriringan berjalan ke kelas.

Aku membantunya membawa setengah buku-buku yang dia bawa. Eh... tunggu bukan setengah tapi seperempatnya. Di kelas, aku duduk di sebelahnya. Keringat bercucuran di dahiku. Berat. Ya, buku yang ku bawa tadi lumayan berat. Pantas saja dia hanya memperbolehkanku membawa seperempatnya. Dia mengeluarkan sapu tangan ungu miliknya dengan inisial 'JB' di salah satu sudutnya. Dia mengelap keringatku itu.

"lumayan beratkan, bukan?" katanya masih mengelap keringat di dahiku. Aku tersenyum kecil. Ku ambil sapu tangan dari tangannya. Lalu menyeka seluruh wajahku yang berkeringat. Dia melihatku.
"tak seperti biasanya kau diam seperti ini. Ada masalah?"

Aku menggeleng pelan. Dia memang lebih mengerti aku di banding dengan kedua orang tuaku. Aku selalu menceritakan masalah apapun padanya. Ya walau dia hanya bisa memberi saran-saran yang kadang tak masuk di akal. Tapi aku memakluminya. Dia bukan wanita yang punya perasaan peka.

* * *

Lima bulan telah berlalu. Orang tuaku benar-benar bercerai. Sekarang mama telah pindah ke apartemennya. Sedangkan aku dan papa di rumah lama kami. Tapi bisa kapan saja aku ke aparteten mama yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah. Beberapa hari belakangan ini papa sering mengajak Elena, sekertarisnya untuk makan malam bersama di rumah. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Oh God apalagi ini? fikirku. Sudahlah mungkin Tuhan akan memberikan yang terbaik untukku.

Setelah pembicaraan waktu itu, Aku tak menyangka, papa benar-benar menikah dengan Elena, sekertarisnya dua bulan yang lalu. Masa bodoh dengan status dia yang sudah menjadi istri papaku bahkan menjadi mama tiriku. Sekali tidak menyukainya tetap saja aku tak menyukainya, walau aku sudah mencoba untuk menyanyanginya seperti menyayangi mama kandungku. Mustahil. Dua bulan sudah dia menjadi pengganti mama. Tapi lidah ini terasa sangat berat untuk memanggilnya dengan sebutan 'MAMA'. Atau sebutan MAMAtak cocok untuknya. Si wanita jalang penggoda suami orang.

* * *

Pagi ini aku sudah duduk di meja makan bersama dengan si wanita jalang ini. Pagi ini aku tak melihat papa sarapan bersamaku. Ku putuskan untuk bertanya. Walau lidahku berat untuk bicara padanya.

"papa mana? Dia tak ikut sarapan ?" tanyaku padanya.

"papa sudah berangkat tadi pagi-pagi. Ada meeting di kantor" jawabnya singkat lalu kembali meneruskan sarapannya lagi.

"Baiklah,  aku berangkat!" kataku pergi meninggalkannya. Aku berjalan kaki menuju sekolah. Sepeda kesayanganku kempes bannya dan aku belum sempat memompanya. 

Tiiiin... Tiiiin... Suara klakson mobil di belakang membuatku geram. Aku menoleh. Apa sih maunya orang di dalam mobil itu? gerutu ku. Mobil itu itu berhenci tepat di hadapanku. Yang mengendarainya keluar. It's amazing. MAMA kandungku. Aku berjingkrak gembira.

"mama?" kataku cepat.
"ayo naik nanti telat !" ujarnya.
aku segera berlari masuk dalam mobil sedan hitam metalik miliknya. Mengecangkan sabuk pengamanku dan tancap gas. Mobil berjalan menuju sekolahku.

"papamu kemana? Kenapa tak mengantarmu? Lalu bagaimana dengan mama tirimu?" tanya mamaku bertubi-tubi.

"papa sudah berangkat pagi-pagi karena ada meeting. Dia hanya duduk berlihai di sofa sambil menonton tv. Hidupnya bagai Nyonya besar saja" ujarku degan nada kesal.

"sungguh keterlaluan dia. Lebih baik kau tinggl bersama mama di apartemen. Kau tak usah repot-repot melihat wajahnya yang menjengkelkan itu" tawarnya padaku, aku menggeleng pelan.

"tidak ma. Aku akan mengawasi tingkahnya di rumah. Setidaknya aku mengetahui apa yang dia lakukan di belakang papa selama ini" aku menolak tawaran mama. Mama mengerti.

* * *

di kelas...



created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03


Tidak ada komentar:

Posting Komentar