*
* *
Di
sekolah...
Aku
berjalan menuju kelasku. Melewati lorong-lorong kelas. Aku masih berfikir hal
tadi hingga aku tak memperhatikan jalan. BRUUK... aku menabrak seseorang di
lorong. Buku-buku yang ku bawa berserakan. Dia mengambilnya. Begitupun denganku
yang ikut membantunya.
"maaf..."
kataku dengan nada bersalah.
"no
problem" jawabnya. "Ivonne? ada apa denganmu ?" tanyanya padaku.
Aku menoleh padanya.
"Justin?"
tanyaku yang tak percaya. "No, Nothing!" jawabku dengan singkat.
Dia
Justin Bieber, sahabatku. Bahkan dia sudah seperti kakakku sendiri. Dia juga
kapten basket di sekolahku. Sudah lama aku menyukainya. Bahkan aku sampai
mencintainya. Tapi sayang kehidupannya yang perfect sebagai
kapten tim basket sekolah membuatnya banyak di kelilingi wanita-wanita cantik.
Tak apalah, setidaknya aku lebih beruntung daripada mereka. Aku bisa setiap
saat bersamanya. Bahkan aku duduk satu meja denganya. Kini aku dan Justin
beriringan berjalan ke kelas.
Aku
membantunya membawa setengah buku-buku yang dia bawa. Eh... tunggu bukan
setengah tapi seperempatnya. Di kelas, aku duduk di sebelahnya. Keringat
bercucuran di dahiku. Berat. Ya, buku yang ku bawa tadi lumayan berat. Pantas
saja dia hanya memperbolehkanku membawa seperempatnya. Dia mengeluarkan sapu
tangan ungu miliknya dengan inisial 'JB' di salah satu sudutnya. Dia
mengelap keringatku itu.
"lumayan
beratkan, bukan?" katanya masih mengelap keringat di dahiku. Aku tersenyum
kecil. Ku ambil sapu tangan dari tangannya. Lalu menyeka seluruh wajahku yang
berkeringat. Dia melihatku.
"tak
seperti biasanya kau diam seperti ini. Ada masalah?"
Aku
menggeleng pelan. Dia memang lebih mengerti aku di banding dengan kedua orang
tuaku. Aku selalu menceritakan masalah apapun padanya. Ya walau dia hanya bisa
memberi saran-saran yang kadang tak masuk di akal. Tapi aku memakluminya. Dia
bukan wanita yang punya perasaan peka.
*
* *
Lima
bulan telah berlalu. Orang tuaku benar-benar bercerai. Sekarang mama telah
pindah ke apartemennya. Sedangkan aku dan papa di rumah lama kami. Tapi bisa
kapan saja aku ke aparteten mama yang letaknya tak terlalu jauh dari rumah.
Beberapa hari belakangan ini papa sering mengajak Elena, sekertarisnya untuk
makan malam bersama di rumah. Aku tak mengerti dengan apa yang mereka
bicarakan. Oh God apalagi ini? fikirku. Sudahlah mungkin Tuhan akan memberikan
yang terbaik untukku.
Setelah
pembicaraan waktu itu, Aku tak menyangka, papa benar-benar menikah dengan
Elena, sekertarisnya dua bulan yang lalu. Masa bodoh dengan status dia yang
sudah menjadi istri papaku bahkan menjadi mama tiriku. Sekali tidak menyukainya
tetap saja aku tak menyukainya, walau aku sudah mencoba untuk menyanyanginya
seperti menyayangi mama kandungku. Mustahil. Dua bulan sudah dia menjadi
pengganti mama. Tapi lidah ini terasa sangat berat untuk memanggilnya dengan
sebutan 'MAMA'. Atau sebutan MAMAtak cocok untuknya. Si
wanita jalang penggoda suami orang.
*
* *
Pagi
ini aku sudah duduk di meja makan bersama dengan si wanita jalang ini. Pagi ini
aku tak melihat papa sarapan bersamaku. Ku putuskan untuk bertanya. Walau
lidahku berat untuk bicara padanya.
"papa
mana? Dia tak ikut sarapan ?" tanyaku padanya.
"papa
sudah berangkat tadi pagi-pagi. Ada meeting di kantor" jawabnya singkat
lalu kembali meneruskan sarapannya lagi.
"Baiklah,
aku berangkat!" kataku pergi meninggalkannya. Aku berjalan kaki menuju
sekolah. Sepeda kesayanganku kempes bannya dan aku belum sempat
memompanya.
Tiiiin...
Tiiiin... Suara klakson mobil di belakang membuatku geram. Aku menoleh. Apa sih
maunya orang di dalam mobil itu? gerutu ku. Mobil itu itu berhenci tepat di
hadapanku. Yang mengendarainya keluar. It's amazing. MAMA kandungku. Aku
berjingkrak gembira.
"mama?"
kataku cepat.
"ayo
naik nanti telat !" ujarnya.
aku
segera berlari masuk dalam mobil sedan hitam metalik miliknya. Mengecangkan
sabuk pengamanku dan tancap gas. Mobil berjalan menuju sekolahku.
"papamu
kemana? Kenapa tak mengantarmu? Lalu bagaimana dengan mama tirimu?" tanya
mamaku bertubi-tubi.
"papa
sudah berangkat pagi-pagi karena ada meeting. Dia hanya duduk berlihai di sofa
sambil menonton tv. Hidupnya bagai Nyonya besar saja" ujarku degan nada
kesal.
"sungguh
keterlaluan dia. Lebih baik kau tinggl bersama mama di apartemen. Kau tak usah
repot-repot melihat wajahnya yang menjengkelkan itu" tawarnya padaku, aku
menggeleng pelan.
"tidak
ma. Aku akan mengawasi tingkahnya di rumah. Setidaknya aku mengetahui apa yang
dia lakukan di belakang papa selama ini" aku menolak tawaran mama. Mama
mengerti.
*
* *
di
kelas...
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar