*
* *
di
kelas...
Aku
hanya duduk diam memperhatikan guru yang mengajar. Aku berkonsentrasi penuh
dengan pelajaran matematika ini. Rumit untuk ku mengerti. Saking seriusnya, aku
tak mendengarkan Justin yang sedang bercerita. Maklum dia memang jago dalam hal
ini jadi cukup baginya untuk mendengarkan saja. Bel istirahat berbunyi. Justin
mengajakku ke kantin. Aku hanya menurut di belakangnya.
"Ivonne"
panggilnya mengagetkanku yang sedang melamun.
"kenapa
sih? Ada masalah dengan mama tirimu?" tanyanya penuh perhatian. Aku
menggeleng.
"No,
oh ya tadi kau bilang ingin cerita, cerita apa?"
"itu
!!" menunjuk seorang gadis yang sedang duduk dan bercanda ria dengan
teman-temannya. "sepertinya aku jatuh cinta dengannya" kata Justin.
Bagai
di sambar petir, hatiku bergetar mendengar kata-kata yang Justin ucapkan. Dan
hancur dengan seketika. Pecah menjadi berkeping-keping. Hatiku menagis pilu.
"siapa?"
tanyaku. "Caitlin? Caitlin Beadles?" aku meyakinkan.
"iya.
Dia cool, manis, cantik, juga ramah" puji Justin.
"hmm..
Ku fikir memang begitu. Yang ku tahu dia masih single" ucapku seketika
dengan suara mulai ikut bergetar.
"Dari
mana kau mengetahuinya?" tanyanya penasaran.
"ada
yang menceritakannya padaku. Mungkin kau masih punya kesempatan" ujarku
seraya memberi semangat padanya.
"yes,
you right" katanya. Wajahnya langsung berseri-seri di semangati oleh
sahabatnya sendiri.
*
* *
Sepulang
sekolah, seperti biasanya aku tak langsung pulang ke rumah. Aku menunggu Justin
yang latihan basket bersama teman-temannya. Aku menunggu di bawah pohon
rindang. Hmm.. panas tak terlalu menyengat di b wah sini. Seseorang
menghampiriku. Dia.. dia.. dia Caitlin. Ada perlu apa dia menghampiriku?
tanyaku dalam hati. Dia duduk di sampingku.
"Hay
Ivonne" sapanya padaku, membalas sapaannya.
"hay
Caitlin. Ada apa?" Senyumannya benar-benar indah, wajahnya juga terama
cantik, pantas jika Justin jatuh hati padanya. Ini sebanding dengan dirinya
yang juga tampan rupawan.
"tidak.
Apa kau tak ingin bergabung bersama kami? Dari pada duduk di sini
sendirian"
"thanks.
Aku lebih suka sendiri" ujarku menolaknya.
"hmm..
Baiklah" katanya. lagi, lagi dia tersenyum ramah. "oh ya boleh aku
bertanya sesuatu?" tanyanya agak ragu. Terlihat dari wajahnya yang ajak
bingung.
"mmm..
boleh. Mau tanya apa?" Jujur aku memang kurang akrab dengan
Caitlin. Aku dan dia hanya mengenal sebatas wajah dan nama. Itupun karena
aku sering menemani Justin latihan basket. Jadi,aku dan dia sering bertemu.
Karena Caitlin itu ketua cheerleaders di sekolahku. Mr. Perfect dan Mrs.
Perfect, cocoklah untuk di sandingkan bersama.
"Justin
itu sudah punya pacar atau belum?" tanyanya pelan namun terdengar jelas di
telingaku.
"ku
rasa belum. Kenapa? Kau menyukainya?" tanyaku balik. Dia diam sejenak.
"aku
mohon jangan beritahu padanya. Ku mohon kau juga mau membantuku!" pintanya
memelas. Aku memang terkejut dengan pengakuan Caity, panggilan akrabnya, yang
ternyata juga mencintai Justin. Aku berfikir sejenak. Ku rasa mungkin aku bisa
mempersatukan mereka. Mudah.
"baiklah,
aku akan coba membantumu" ujarku seraya ternsenyum.
"thanks
Ivonne. You're the best !" ucapnya kegirangan.
Selesai
latihan aku langsung mengekor di belakang Justin. Seperti biasanya, aku
mendapatkan gratisan tumpangan karena sepeda ku belum benar. Aku pulang di
antar Justin dengan motornya. Setibanya di depan rumah...
"thanks
Justin" ucapku seraya berterima kasih.
"yeah,
no problem" jawabnya singkat. "hhmm, apa yang kau bicarakan dengan
Caitlin tadi?" tanyanya. Rupanya dia melihatku dan Caity tadi.
"apa
yang dia bicarakan padamu?" tanyanya yang semakin penasaran.
"tidak,
tadi dia hanya berteduh dan kami hanya membicarakan masalah perempuan
saja" elakku dengan cepat. Justin melengos lalu memanyunkan bibirnya
pertanda dia kesal dengan jawab dari bibirku. "Justin..." panggilku
"apa kau benar-benar mencintai Caity?" tanyaku.
"Tentu...
Aku menyadari hal itu sekarang" jawabnya jelas.
*
* *
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar