Jumat, 05 Desember 2014

Me, You and Her#Part7


* * *

Aku telah siap di operasi. Operasi akan di laksanakan pukul 10.00 am. Aku menelepon mama juga papaku untuk datang tapi tidak untuk si wanita jalang, Elena. Aku bilang pada kedua orang tuaku untuk datang ke rumah sakit menemani serta mendoakan operasi Justin, aku tak mengatakan aku juga akan di operasi. Aku takut mereka shock.

Biarlah mereka tahu saat tubuhku telah terbujur kaku dan dokter spesialist ku yang menjelaskannya. Satu jam lagi operasi akan di laksanakan. Aku berbincang dengan dokter spesialist ku. Dia memang sudah seperti Om-ku sendiri.

Aku minta padanya untuk menyerahkan sebuah kotak berwarna ungu untuk Justin di saat dia sudah bisa melihat. Juga memberikan sepucuk surat untuk kedua orang tuaku. Dokter spesialist ku, dokter Pram namanya menyetujuinya. Sebentar lagi saatnya operasi. Aku berjalan keluar ruangan dokter Pram. Hanya untuk memastikan kedua orang tuaku telah datang. Dan benar saja mereka datang. Aku menagis haru. Saat terakhirku melihat kedua orang tua ku yang rukun. Damai hatiku melihatnya.

* * *

Inilah saatnya, aku siap. Ku lihat tubuh Justin yg tergolek lemas di tempat operasi. Aku mendekatinya. Ku sentuh lengannya. DINGIN. Aku melihat jelas wajahnya yang tampan dan cute itu. Aku mengecup bibirnya pelan. Aku meneteskan air mata. Aku tak sanggup meninggalkannya. Tapi ini sudah pilihan ku. Aku harus menjalaninya.

"sampai bertemu kembali Justin, Love you" bisik ku pelan di telinga Justin. Entah dia mendengarnya atau tidak. Ku rasa dia takan mendengarnya. Aku berbaring di tempat operasi yang telah di sediakan.

Aku mengambil nafas panjang, lalu ku keluarkan perlahan. Jarum suntik berisi obat bius menusuk kulitku. Perlahan aku tertidur. Aku berada di dalam mimpi. Ah.. Bukan-bukan ini bukan mimpi. Ini alam dimana antara hidup dan mati. Aku berharap bisa bertemu Justin di sini. Tapi... Tapi... Dimana dia? Aku tidak melihatnya. Aku mau mencarinya, fikirku.

Aku mencari-carinya. Tetap saja aku tak bertemu dengannya. Huuh lelah rasanya kaki ini. Tak ada tenaga yg tersisa. Aku mulai menyerah. Tiba-tiba ada seorang yg menepuk pundak ku. Aku takjub melihat orang yg ku cari-cari dari tadi kini berada di samping ku. "Justin..." tanyaku yang tidak percaya.

"iya ini aku. Kenapa kamu ada di sini juga?" dia balik bertanya.

"aku mencarimu Justin. Jangan pergi... masih banyak orang yang menyayangimu. Ku mohon untukmu kembali" pintaku.

Dia memegang kedua pundak ku. Menatapku dengan kedua bola mata yg coklat keemasan. Indah sekali. Namun, mata itu sudah tak indah lagi, setelah kabut hitam menyelimutinya.

Lama aku berbincang dengan Justin. Ya, walau hanya di alam antara hidup dan mati. Aku merasakan kehangatan seperti dulu. Saat-saat menghabiskan waktu bersama. Tiba-tiba sebuah cahaya gelap menarik ku. Memisahankan ku dengan Justin. Aku mencoba meraih tangannya. Susah sekali.

Semakin lama aku semakin terpisah jauh dengan Justin. Bahkan aku belum mengatakan selamat tinggal padanya. Ternyata operasi sudah selesai di lakukan. Aku lega bisa melakukan sesuatu untuk orang di sekitarku. Terutama orang yang ku cintai, Justin. Ku lihat tubuh Justin di bawa oleh suster di pindahkan keruangan lain. Sedangkan aku? Tubuhku kaku tak bernyawa.

Aku telah MATI..




created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03


Tidak ada komentar:

Posting Komentar