*
* *
Aku
telah siap di operasi. Operasi akan di laksanakan pukul 10.00 am. Aku menelepon
mama juga papaku untuk datang tapi tidak untuk si wanita jalang, Elena. Aku
bilang pada kedua orang tuaku untuk datang ke rumah sakit menemani serta
mendoakan operasi Justin, aku tak mengatakan aku juga akan di operasi. Aku
takut mereka shock.
Biarlah
mereka tahu saat tubuhku telah terbujur kaku dan dokter spesialist ku yang
menjelaskannya. Satu jam lagi operasi akan di laksanakan. Aku berbincang dengan
dokter spesialist ku. Dia memang sudah seperti Om-ku sendiri.
Aku
minta padanya untuk menyerahkan sebuah kotak berwarna ungu untuk Justin di saat
dia sudah bisa melihat. Juga memberikan sepucuk surat untuk kedua orang tuaku.
Dokter spesialist ku, dokter Pram namanya menyetujuinya. Sebentar lagi saatnya
operasi. Aku berjalan keluar ruangan dokter Pram. Hanya untuk memastikan kedua
orang tuaku telah datang. Dan benar saja mereka datang. Aku menagis haru. Saat
terakhirku melihat kedua orang tua ku yang rukun. Damai hatiku melihatnya.
*
* *
Inilah
saatnya, aku siap. Ku lihat tubuh Justin yg tergolek lemas di tempat operasi.
Aku mendekatinya. Ku sentuh lengannya. DINGIN. Aku melihat jelas wajahnya yang
tampan dan cute itu. Aku mengecup bibirnya pelan. Aku meneteskan air mata. Aku
tak sanggup meninggalkannya. Tapi ini sudah pilihan ku. Aku harus menjalaninya.
"sampai
bertemu kembali Justin, Love you" bisik ku pelan di telinga Justin. Entah
dia mendengarnya atau tidak. Ku rasa dia takan mendengarnya. Aku berbaring di
tempat operasi yang telah di sediakan.
Aku
mengambil nafas panjang, lalu ku keluarkan perlahan. Jarum suntik berisi obat
bius menusuk kulitku. Perlahan aku tertidur. Aku berada di dalam mimpi. Ah..
Bukan-bukan ini bukan mimpi. Ini alam dimana antara hidup dan mati. Aku
berharap bisa bertemu Justin di sini. Tapi... Tapi... Dimana dia? Aku tidak
melihatnya. Aku mau mencarinya, fikirku.
Aku
mencari-carinya. Tetap saja aku tak bertemu dengannya. Huuh lelah rasanya kaki
ini. Tak ada tenaga yg tersisa. Aku mulai menyerah. Tiba-tiba ada seorang yg
menepuk pundak ku. Aku takjub melihat orang yg ku cari-cari dari tadi kini
berada di samping ku. "Justin..." tanyaku yang tidak percaya.
"iya
ini aku. Kenapa kamu ada di sini juga?" dia balik bertanya.
"aku
mencarimu Justin. Jangan pergi... masih banyak orang yang menyayangimu. Ku
mohon untukmu kembali" pintaku.
Dia
memegang kedua pundak ku. Menatapku dengan kedua bola mata yg coklat keemasan.
Indah sekali. Namun, mata itu sudah tak indah lagi, setelah kabut hitam
menyelimutinya.
Lama
aku berbincang dengan Justin. Ya, walau hanya di alam antara hidup dan mati.
Aku merasakan kehangatan seperti dulu. Saat-saat menghabiskan waktu bersama.
Tiba-tiba sebuah cahaya gelap menarik ku. Memisahankan ku dengan Justin. Aku
mencoba meraih tangannya. Susah sekali.
Semakin
lama aku semakin terpisah jauh dengan Justin. Bahkan aku belum mengatakan
selamat tinggal padanya. Ternyata operasi sudah selesai di lakukan. Aku lega
bisa melakukan sesuatu untuk orang di sekitarku. Terutama orang yang ku cintai,
Justin. Ku lihat tubuh Justin di bawa oleh suster di pindahkan keruangan lain.
Sedangkan aku? Tubuhku kaku tak bernyawa.
Aku
telah MATI..
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar