Jumat, 05 Desember 2014

Me, You and Her #TheLast


Aku telah MATI.

Jantung ku dan jantung Justin di tukar begitupun dengan kedua mata kami. Orang tuaku yang mengetahui aku sudah tak bernyawa sangat shock. Dokter spesialist kanker ku, dokter Pram menceritakan penyakit yang ku derita sejak empat tahun lalu dan akhirnya aku memutuskan untuk mendonorkan organ tubuhku pada Justin. Mamaku lemas mendengar semua penjelasan dari dokter Pram.

Dokter Pram memberikan sepucuk surat dariku untuk kedua orang tuaku. Isi surat itu, aku minta pada orang tuaku agar rujuk kembali. Ya, walau mereka tak menikah lagi tapi setidaknya mereka bisa rukun kembali seperti keluarga. Aku juga minta pada orang tuaku agar merawat semua barang-barang milik ku dan jangan lupakan aku. Aku juga minta maaf karena aku tak jujur tentang keadaanku yang sesungguhnya.

* * *

Tiga minggu kemudian, perban penutup mata Justin sudah di buka. Akhrinya dia bisa melihat dunia yg indah lagi. Walau aku tak ada di sana melihatnya. Perlahan Justin membuka matanya. Bukan matanya, tapi mataku. Dua buah bola mata yang memang berwana coklat keemasan milik ku yang ku donorkan untuk Justin. Sangat bermanfaat. Dan jantungku yang menggantikan jantung Justin sekarang. Aku bisa merasakan detak jantung itu.

"bagaimana Justin kau benar-benar bisa melihat?" tanya dokter yang merawat Justin.

"sudah Dok! Aku bisa melihat kedua orang tuaku, orang tua Ivonne, dan Caitlin, kekasihku" jelasnya.

"baiklah. Perkembangan yang cukup bagus. Nanti di cek setiap dua minggu sekali" ujar dokter itu.

"terima kasih, Dok." ujar Dad Jeremy.

Dokter meninggalkan ruangan. Justin celingukan dari tadi. Semua yang berada di situ pun ikut bingung.

"kau sedang mencari siapa Justin?" tanya Caitlin yang keheranan.

"dimana Ivonne? Aku tidak melihatnya sejak tadi" ujarnya. "apa dia sakit?"  Aku bersyukur, Justin masih mengingatku? Dia bahkan mencariku. Aku menangis haru. Semua orang di ruangan itu pun menangis. Apalagi mamaku yang langsung memeluk Justin dengan tangisan yang tak terbendung.

Justin nampak bingung dengan sikap mamaku yang seperti itu. "dimana Ivonne? Aku ingin bertemu dengannya. Dimana dia?" tanyanya, lagi.

"Justin, Ivonne sudah..." Caitlin hendak menjawab di sela-sela tangisnya.

"Ada apa dengan Ivonne? Ada apa dengannya?" tanyanya yang mulai marah.

"Ivonne meninggal, Justin!" isak mama ku yang masih memeluk Justin.

"What?!"teriaknya "No, impsiblle, kalian berbohonka?" Justin mulai menangis. "kenapa dia meninggalkan ku? Apa dia tak menyanyangi ku?" Mom Pattie mencoba menenangkan Justin, anaknya.

"Justin, tenanglah ! Dia sangat menyayangimu Justin. Dia meninggalkan sesuatu untukmu. Sesuatu yang berharga sekali untukmu"

"meninggalkan kedua mata dan jantungnya untukmu" terang Dad Jeremy.

"Mata? Jantung? Kenapa bis ? Aku mohon ambil jantung dan kedua bola mata ini, aku ingin lihat senyumnya. Aku ingin lihat dia tertawa karena selama ini dia menderita setelah orang tuanya bercerai. Aku belum sempat membuatnya tersenyum" ujar Justin penuh penyesalan.

Sudahlah Justin aku bahagia di sini. Jangan kau buatku bersedih dengan mengingat masa lalu ku yang kelam. Aku sudah tenang di sini, di alam ini.

* * *

Seminggu kemudian, Justin di bolehkan pulang dari rumah sakit. Dengan di jemput oleh Caitlin, Justin pulang ke rumahnya. Di perjalanan dia minta di antar ke makamku. Aku senang dia menengok jazad ku yang terbujur kaku di sana. Dia mengelus papan namaku, membersihkan rumput serta daun-daun liar yang berguguran di sekitar peristirahatan ku yang terakhir itu.

"aku pasti rindu padamu, Ivonne !" katanya "terima kasih telah mendonorkan kedua mata dan jantung mu untuk ku. Aku tak mungkin bisa membalas semuanya. Hanya terima kasih yang bisa ku ucapkan padamu. Kau sahabat ku yang terbaik, Ivonne" Justin berurai air mata.

Sesudah itu, dokter spesialisku, dokter Pram datang ke rumah Justin. Dia memberikan kotak ungu dari ku untuk Justin. Isi kotak itu adalah sebuah syal berwarna ungu dengan nama Justin dan Ivonne yang sengaja ku rajut sendiri dengan jari-jariku. Lalu ada handuk kecil yangg juga berwarna ungu, untuk di pakai mengelap keringatnya yangg bercucuran setelah latihan basket. Juga aku mengembalikan sapu tangan ungu miliknya yang waktu itu ku pinjam untuk menyeka keringatku.

"Thanks Ivonne" ucapnya berterima kasih.

Sama-sama Justin. Kau telah membuat hidupku berarti. Walau semua tak berjalan sesuai dengan yang ku harapkan. Love you Justin. Aku akan terus menjagamu dari sini. Ku relakan Justin dengan Caitlin yang bisa membuatnya bahagia. Karena cinta tak harus memiliki tapi selalu menyayangi dan melindungi.

THE END

Bagaimana dengan Elena? Papaku telah menerima kiriman dariku, tanpa fikir panjang papaku langsung menceraikannya. Dan sekarang dia menjadi gila gara-gara ulahnya sendiri. Papaku sudah berencana akan rujuk dan menikah kembali dengan Mama. Semoga kalian mendapatkan anak yang lebih dari ku! Doa untuk kedua orang tuaku. Sekarang aku bisa tidur nyenyak selamanya. 

====




created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03



Tidak ada komentar:

Posting Komentar