Aku
telah MATI.
Jantung
ku dan jantung Justin di tukar begitupun dengan kedua mata kami. Orang tuaku
yang mengetahui aku sudah tak bernyawa sangat shock. Dokter spesialist kanker
ku, dokter Pram menceritakan penyakit yang ku derita sejak empat tahun lalu dan
akhirnya aku memutuskan untuk mendonorkan organ tubuhku pada Justin. Mamaku
lemas mendengar semua penjelasan dari dokter Pram.
Dokter
Pram memberikan sepucuk surat dariku untuk kedua orang tuaku. Isi surat itu,
aku minta pada orang tuaku agar rujuk kembali. Ya, walau mereka tak menikah
lagi tapi setidaknya mereka bisa rukun kembali seperti keluarga. Aku juga minta
pada orang tuaku agar merawat semua barang-barang milik ku dan jangan lupakan
aku. Aku juga minta maaf karena aku tak jujur tentang keadaanku yang
sesungguhnya.
*
* *
Tiga
minggu kemudian, perban penutup mata Justin sudah di buka. Akhrinya dia bisa
melihat dunia yg indah lagi. Walau aku tak ada di sana melihatnya. Perlahan
Justin membuka matanya. Bukan matanya, tapi mataku. Dua buah bola mata yang
memang berwana coklat keemasan milik ku yang ku donorkan untuk Justin. Sangat
bermanfaat. Dan jantungku yang menggantikan jantung Justin sekarang. Aku bisa
merasakan detak jantung itu.
"bagaimana
Justin kau benar-benar bisa melihat?" tanya dokter yang merawat Justin.
"sudah
Dok! Aku bisa melihat kedua orang tuaku, orang tua Ivonne, dan Caitlin,
kekasihku" jelasnya.
"baiklah.
Perkembangan yang cukup bagus. Nanti di cek setiap dua minggu sekali" ujar
dokter itu.
"terima
kasih, Dok." ujar Dad Jeremy.
Dokter
meninggalkan ruangan. Justin celingukan dari tadi. Semua yang berada di situ
pun ikut bingung.
"kau
sedang mencari siapa Justin?" tanya Caitlin yang keheranan.
"dimana
Ivonne? Aku tidak melihatnya sejak tadi" ujarnya. "apa dia
sakit?" Aku bersyukur, Justin masih mengingatku? Dia bahkan
mencariku. Aku menangis haru. Semua orang di ruangan itu pun menangis. Apalagi
mamaku yang langsung memeluk Justin dengan tangisan yang tak terbendung.
Justin
nampak bingung dengan sikap mamaku yang seperti itu. "dimana Ivonne? Aku
ingin bertemu dengannya. Dimana dia?" tanyanya, lagi.
"Justin,
Ivonne sudah..." Caitlin hendak menjawab di sela-sela tangisnya.
"Ada
apa dengan Ivonne? Ada apa dengannya?" tanyanya yang mulai marah.
"Ivonne
meninggal, Justin!" isak mama ku yang masih memeluk Justin.
"What?!"teriaknya
"No, impsiblle, kalian berbohonka?" Justin mulai menangis.
"kenapa dia meninggalkan ku? Apa dia tak menyanyangi ku?" Mom Pattie
mencoba menenangkan Justin, anaknya.
"Justin,
tenanglah ! Dia sangat menyayangimu Justin. Dia meninggalkan sesuatu untukmu.
Sesuatu yang berharga sekali untukmu"
"meninggalkan
kedua mata dan jantungnya untukmu" terang Dad Jeremy.
"Mata?
Jantung? Kenapa bis ? Aku mohon ambil jantung dan kedua bola mata ini, aku
ingin lihat senyumnya. Aku ingin lihat dia tertawa karena selama ini dia
menderita setelah orang tuanya bercerai. Aku belum sempat membuatnya
tersenyum" ujar Justin penuh penyesalan.
Sudahlah
Justin aku bahagia di sini. Jangan kau buatku bersedih dengan mengingat masa
lalu ku yang kelam. Aku sudah tenang di sini, di alam ini.
*
* *
Seminggu
kemudian, Justin di bolehkan pulang dari rumah sakit. Dengan di jemput oleh
Caitlin, Justin pulang ke rumahnya. Di perjalanan dia minta di antar ke
makamku. Aku senang dia menengok jazad ku yang terbujur kaku di sana. Dia
mengelus papan namaku, membersihkan rumput serta daun-daun liar yang berguguran
di sekitar peristirahatan ku yang terakhir itu.
"aku
pasti rindu padamu, Ivonne !" katanya "terima kasih telah mendonorkan
kedua mata dan jantung mu untuk ku. Aku tak mungkin bisa membalas semuanya.
Hanya terima kasih yang bisa ku ucapkan padamu. Kau sahabat ku yang terbaik,
Ivonne" Justin berurai air mata.
Sesudah
itu, dokter spesialisku, dokter Pram datang ke rumah Justin. Dia memberikan
kotak ungu dari ku untuk Justin. Isi kotak itu adalah sebuah syal berwarna ungu
dengan nama Justin dan Ivonne yang sengaja ku rajut sendiri dengan jari-jariku.
Lalu ada handuk kecil yangg juga berwarna ungu, untuk di pakai mengelap
keringatnya yangg bercucuran setelah latihan basket. Juga aku mengembalikan
sapu tangan ungu miliknya yang waktu itu ku pinjam untuk menyeka keringatku.
"Thanks
Ivonne" ucapnya berterima kasih.
Sama-sama
Justin. Kau telah membuat hidupku berarti. Walau semua tak berjalan sesuai
dengan yang ku harapkan. Love you Justin. Aku akan terus menjagamu dari sini.
Ku relakan Justin dengan Caitlin yang bisa membuatnya bahagia. Karena cinta tak
harus memiliki tapi selalu menyayangi dan melindungi.
THE
END
Bagaimana
dengan Elena? Papaku telah menerima kiriman dariku, tanpa fikir panjang papaku
langsung menceraikannya. Dan sekarang dia menjadi gila gara-gara ulahnya
sendiri. Papaku sudah berencana akan rujuk dan menikah kembali dengan Mama.
Semoga kalian mendapatkan anak yang lebih dari ku! Doa untuk kedua orang tuaku.
Sekarang aku bisa tidur nyenyak selamanya.
====
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar