Jumat, 05 Desember 2014

Me, You and Her #Part5


* * *

Setelah pulang sekolah aku sadar. Ku lihat Justin yang menungguku bersama dengan Caitlin,kekasihnya.

"Justin..." lirih ku. "aku dimana?" tanyaku yang masih menahan sakit.

"Ivonne!! Syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat khawatir" ujarnya.

"sudahlah. Tak perlu sekhawatir itu. Aku baik-baik saja"kataku."

"siapa yang tak khawatir? Kau tiba-tiba pingsan. Aku panik Ivonne!!" katanya

"Iya. Justin sangat khawatir padamu Ivonne" sambung Caitlin.

"baiklah thanks atas kekhawatiran kalian. Sekarang aku mau pulang" pintaku.

"biar ku antar ya" tawar Justin. Aku tersenyum.

"tidak, aku bisa pulang sendiri" kataku.

"yakin?"Justin meyakinkan.

"iya, sudahlah kalian pulang saja duluan" balasku kesal. Sebenarnya hanya sebal karena ada Caitlin disini.

Mereka menuruti perkataanku. Justin menggenggam erat tangan Caitlin dan pergi meninggalkanku. Hmm... Mr. Perfect dan Mrs. Perfect memang serasi, gumamku. Jujur aku kehilangan Justin semenjak dia berpacaran dengan Caitlin. Mungkin karena dulu aku dan Justin sering menghabiskan waktu bersama jadi aku merasa kehilangan.

* * *

Aku berjalan menuju tebing tinggi di belakang sekolah. Tebing itu tempat satu-satunya untukku menyendiri. Tak ad yang mengetahuinya kecuali Justin. Dia yang sering aku ajak ke sini. Aku naik ke batu besar yang ada di pinggir tebing itu. Aku berdiri dan merentangkan kedua tanganku.

Aku berteriak meluapkan emosi yang ku pendam selama ini. "aku Ivonne Shasmita mencintai Justin Bieber dengan sepenuh dan setulus hatiku. Aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia, Justin. Termasuk mengorbankan perasaanku saat melihatmu bersama dengan pacarmu, Caitlin." teriakku kencang. Aku mengambil nafas lalu berteriak lagi setelah membuang nafas melalui mulutku perlahan.

"Aku rela Justin. Aku rela. Aku hanya ingin kau tau bahwa selama ini aku MENCINTAIMU dan akan terus begitu untuk selamanya!" teriakku aku memundurkan langkah kakiku. Sekarang aku bersandar di batu besar. Bersandar hingga tak menyadari malam datang dengan cepatnya. Aku malas pulang. Aku memejamkan kedua mataku. Aku tertidur di bawah sinar bintang yang kelap-kelip.

---
Empat bulan kemudian, keadaan rumah semakin parah. Wanita jalang itu makin sering membawa teman prianya ke rumah. Apalagi sejak 2 bulan yang lalu papa ke luar negeri untuk urusan bisnisnya. Rumahku bagai diskotik murahan pinggir jalan. Kini wanita jalang itu sudah berani untuk menyuruh-nyuruhku.
Pernah aku menolak keinginannya, namun dia malah menjambak rambutku juga menampar kedua pipiku. Aku ingin mengadu pada papa tapi handponeku di sita olehnya. Dasar perempuan jahanam, Terkutuklah kau, gumam ku.

Malam ini seperti beberapa malam sebelumnya. Dia menelepon beberapa teman prianya untuk datang ke rumah. Aku di suruh untuk menyiapkan makanan dan beberapa botol minuman beralkohol di meja ruang tamu. Serta merapikan kamarnya, kamar papaku juga. Sebenarnya apa yang akan di lakukannya dengan pria-pria itu di kamar ? Aku ingat,  ada handycam yang papa simpan di laci. Aku meletakannya di atas lemari untuk merekam apa yang terjadi. Semoga ini berhasil dan ini bisa ku berikan pada papa sebgai bukti ke durjana-an istrinya, doaku pada Tuhan.


Pagi ini hari libur, aku bangun agak siang. Setelah itu aku membereskan rumah yang berantakan akibat ulah si wanita jalang, Elena. Semua pembantu di pecat olehnya. Mungkin gaji pembantu dia ambil juga untuk membeli minuman beralkohol yang harganya lumayan mahal. Satu jam lebih aku membereskan rumah. Berusaha menghilangkan bau alkohol yang tersebar dimana-mana. Itu membuatku pusing.

Tees...tees...darah kembali menetes dari hidungku. Aduh aku mohon jangan sekarang. Dasar penyakit sialan, omelku. Hampir empat tahun sudah aku mengidap penyakit ini. Dan tak ada yang mengetahuinya. Bahkan kedua orang tuaku, juga Justin sahabat terbaikku. Aku mengidap Leukimia stadium akut. Sudah sangat parah memang. Aku pasrah dengan kehendak Tuhan jika Tuhan mengambilku saat ini juga. Bahkan aku sudah menandatangani sura perjanjian penyerahan organ tubuh ku pada orang yang membutuhkan.

Jam dinding menunjukan pukul 10.30 am, wanita jalang dan murahan itu baru bangun dari tidurnya. Dia masih mengenakan gaun tidur miliknya. Dia mencari makanan di meja makan. Tak ada. Karena aku memang belum masak. Dia berteriak-teriak memanggilku. Aku segera menemuinya.
PLAAK!
Lagi-lagi dia menamparku.


"dasar anak bodoh! Kau tahu ini jam berapa, hah? Aku dan pacarku lapar!" omelnya. Aku memutar bola mataku. Sebenarnya aku kaget dengan yang dia ucapkan. Pacar? Jadi pria itu adalah pacarnya. Benar dugaanku sebelumnya, dia hanya menginginkan harta dan kekayaan papa. Sebuah kebenaran kembali terungkap. Aku hanya diam tak menjawab ucapannya. Lelah rasanya bertengkar dengan orang yang tidak penting macam dia. Dia kembali ke kamar.

Tak lama kemudian, wanita jalang itu keluar dengan pacarnya. Hmm... Coba ku ingat. Niiii... Niick, yah Nick namanya. Aku tak peduli mereka. Hidupku bagai anak sebatang kara yang di tinggal oleh kedua orang tuanya. Selena dan Nick pergi meninggalkan rumah. Ini kesempatanku untuk masuk ke kamar mereka. Mengambil handycam yang kemarin ku letakan di atas lemari. Perlahan tapi pasti, aku mengambil handycam itu.

Dan Astaga, saat ku lihat rekaman itu. Aku segera membuat rekaman itu dalam bentuk DVD agar bisa ku kirim ke papa lewat jasa pengiriman barang. Degan cepat aku mengayuh sepedaku menuju tempat pengiriman barang. Aku minta pada jasa pengirimnya secepat mungkin sampai di tempat tujuan. Berapapun harganya akan aku bayar. Tugas pertama telah selesai. Aku kembali pulang. Aaaah sialan! Ban sepedaku kempes lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menaruhnya di bengkel sepeda dekat situ. Dan aku pulang dengan berjalan kaki.

Suasana di jalan raya agak sepi hari ini. Aku melihat si wanita jalang, Elena dan Nick sedang makan pancake di sebuah toko pancake di situ. Aku tertawa terbahak-bahak melihat mereka yang makan pancake di tempat itu. Selena menghampiriku. Dia mendorong tubuhku ke tengah jalan. Aku masih tertawa terbahak-bahak. Aku tak menyadari bahwa ad sebuah truk yang sangat besar berjalan ke arah ku dengan kecepatan tinggi.

"awaaaaaass !!" teriak seseorang.Dan....

BRRUUUK! jalanan di penuhi darah. Ambulance datang. Dan membawa korban tersebut ke rumah sakit.

* * *

Di rumah sakit...



created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716

Kelas  : 2EA03


Tidak ada komentar:

Posting Komentar