*
* *
Setelah
pulang sekolah aku sadar. Ku lihat Justin yang menungguku bersama dengan
Caitlin,kekasihnya.
"Justin..."
lirih ku. "aku dimana?" tanyaku yang masih menahan sakit.
"Ivonne!!
Syukurlah kau sudah sadar. Aku sangat khawatir" ujarnya.
"sudahlah.
Tak perlu sekhawatir itu. Aku baik-baik saja"kataku."
"siapa
yang tak khawatir? Kau tiba-tiba pingsan. Aku panik Ivonne!!" katanya
"Iya.
Justin sangat khawatir padamu Ivonne" sambung Caitlin.
"baiklah
thanks atas kekhawatiran kalian. Sekarang aku mau pulang" pintaku.
"biar
ku antar ya" tawar Justin. Aku tersenyum.
"tidak,
aku bisa pulang sendiri" kataku.
"yakin?"Justin
meyakinkan.
"iya,
sudahlah kalian pulang saja duluan" balasku kesal. Sebenarnya hanya sebal
karena ada Caitlin disini.
Mereka
menuruti perkataanku. Justin menggenggam erat tangan Caitlin dan pergi
meninggalkanku. Hmm... Mr. Perfect dan Mrs. Perfect memang serasi, gumamku.
Jujur aku kehilangan Justin semenjak dia berpacaran dengan Caitlin. Mungkin
karena dulu aku dan Justin sering menghabiskan waktu bersama jadi aku merasa
kehilangan.
*
* *
Aku
berjalan menuju tebing tinggi di belakang sekolah. Tebing itu tempat
satu-satunya untukku menyendiri. Tak ad yang mengetahuinya kecuali Justin. Dia
yang sering aku ajak ke sini. Aku naik ke batu besar yang ada di pinggir tebing
itu. Aku berdiri dan merentangkan kedua tanganku.
Aku
berteriak meluapkan emosi yang ku pendam selama ini. "aku Ivonne Shasmita
mencintai Justin Bieber dengan sepenuh dan setulus hatiku. Aku akan melakukan
apapun untuk membuatmu bahagia, Justin. Termasuk mengorbankan perasaanku saat
melihatmu bersama dengan pacarmu, Caitlin." teriakku kencang. Aku
mengambil nafas lalu berteriak lagi setelah membuang nafas melalui mulutku perlahan.
"Aku
rela Justin. Aku rela. Aku hanya ingin kau tau bahwa selama ini aku MENCINTAIMU
dan akan terus begitu untuk selamanya!" teriakku aku memundurkan langkah
kakiku. Sekarang aku bersandar di batu besar. Bersandar hingga tak menyadari
malam datang dengan cepatnya. Aku malas pulang. Aku memejamkan kedua mataku.
Aku tertidur di bawah sinar bintang yang kelap-kelip.
---
Empat
bulan kemudian, keadaan rumah semakin parah. Wanita jalang itu makin sering
membawa teman prianya ke rumah. Apalagi sejak 2 bulan yang lalu papa ke luar
negeri untuk urusan bisnisnya. Rumahku bagai diskotik murahan pinggir jalan.
Kini wanita jalang itu sudah berani untuk menyuruh-nyuruhku.
Pernah
aku menolak keinginannya, namun dia malah menjambak rambutku juga menampar
kedua pipiku. Aku ingin mengadu pada papa tapi handponeku di sita olehnya.
Dasar perempuan jahanam, Terkutuklah kau, gumam ku.
Malam
ini seperti beberapa malam sebelumnya. Dia menelepon beberapa teman prianya
untuk datang ke rumah. Aku di suruh untuk menyiapkan makanan dan beberapa botol
minuman beralkohol di meja ruang tamu. Serta merapikan kamarnya, kamar papaku
juga. Sebenarnya apa yang akan di lakukannya dengan pria-pria itu di kamar ?
Aku ingat, ada handycam yang papa simpan di laci. Aku meletakannya di atas
lemari untuk merekam apa yang terjadi. Semoga ini berhasil dan ini bisa ku
berikan pada papa sebgai bukti ke durjana-an istrinya, doaku pada Tuhan.
Pagi
ini hari libur, aku bangun agak siang. Setelah itu aku membereskan rumah yang
berantakan akibat ulah si wanita jalang, Elena. Semua pembantu di pecat
olehnya. Mungkin gaji pembantu dia ambil juga untuk membeli minuman beralkohol
yang harganya lumayan mahal. Satu jam lebih aku membereskan rumah. Berusaha
menghilangkan bau alkohol yang tersebar dimana-mana. Itu membuatku pusing.
Tees...tees...darah
kembali menetes dari hidungku. Aduh aku mohon jangan sekarang. Dasar penyakit
sialan, omelku. Hampir empat tahun sudah aku mengidap penyakit ini. Dan tak ada
yang mengetahuinya. Bahkan kedua orang tuaku, juga Justin sahabat terbaikku.
Aku mengidap Leukimia stadium akut. Sudah sangat parah memang. Aku pasrah
dengan kehendak Tuhan jika Tuhan mengambilku saat ini juga. Bahkan aku sudah
menandatangani sura perjanjian penyerahan organ tubuh ku pada orang yang
membutuhkan.
Jam
dinding menunjukan pukul 10.30 am, wanita jalang dan murahan itu baru bangun
dari tidurnya. Dia masih mengenakan gaun tidur miliknya. Dia mencari makanan di
meja makan. Tak ada. Karena aku memang belum masak. Dia berteriak-teriak
memanggilku. Aku segera menemuinya.
PLAAK!
Lagi-lagi
dia menamparku.
"dasar
anak bodoh! Kau tahu ini jam berapa, hah? Aku dan pacarku lapar!" omelnya.
Aku memutar bola mataku. Sebenarnya aku kaget dengan yang dia ucapkan. Pacar?
Jadi pria itu adalah pacarnya. Benar dugaanku sebelumnya, dia hanya
menginginkan harta dan kekayaan papa. Sebuah kebenaran kembali terungkap. Aku
hanya diam tak menjawab ucapannya. Lelah rasanya bertengkar dengan orang yang
tidak penting macam dia. Dia kembali ke kamar.
Tak
lama kemudian, wanita jalang itu keluar dengan pacarnya. Hmm... Coba ku ingat.
Niiii... Niick, yah Nick namanya. Aku tak peduli mereka. Hidupku bagai anak
sebatang kara yang di tinggal oleh kedua orang tuanya. Selena dan Nick pergi
meninggalkan rumah. Ini kesempatanku untuk masuk ke kamar mereka. Mengambil
handycam yang kemarin ku letakan di atas lemari. Perlahan tapi pasti, aku
mengambil handycam itu.
Dan
Astaga, saat ku lihat rekaman itu. Aku segera membuat rekaman itu dalam bentuk
DVD agar bisa ku kirim ke papa lewat jasa pengiriman barang. Degan cepat aku
mengayuh sepedaku menuju tempat pengiriman barang. Aku minta pada jasa
pengirimnya secepat mungkin sampai di tempat tujuan. Berapapun harganya akan
aku bayar. Tugas pertama telah selesai. Aku kembali pulang. Aaaah sialan! Ban
sepedaku kempes lagi. Akhirnya aku memutuskan untuk menaruhnya di bengkel
sepeda dekat situ. Dan aku pulang dengan berjalan kaki.
Suasana
di jalan raya agak sepi hari ini. Aku melihat si wanita jalang, Elena dan Nick
sedang makan pancake di sebuah toko pancake di situ. Aku tertawa terbahak-bahak
melihat mereka yang makan pancake di tempat itu. Selena menghampiriku. Dia
mendorong tubuhku ke tengah jalan. Aku masih tertawa terbahak-bahak. Aku tak
menyadari bahwa ad sebuah truk yang sangat besar berjalan ke arah ku dengan
kecepatan tinggi.
"awaaaaaass
!!" teriak seseorang.Dan....
BRRUUUK!
jalanan di penuhi darah. Ambulance datang. Dan membawa korban tersebut ke rumah
sakit.
*
* *
Di
rumah sakit...
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar