*
* *
Di
rumah sakit...
Aku
segera menghubungi kedua orang tua Justin dan Caitlin, kekasihnya. Ya, aku di
selamatkan oleh Justin dari tabrakan truk itu. Tapi aku tak tahu bagaimana
keadaan orang yang menyelamatkanku tadi. Apa dia mati atau dia masih hidup? Aku
bertanya-tanya sendiri. Caitlin datang bersama dengan kedua orang tua Justin
yang sudah bercerai. Oh iya, Kami mempunyai kesamaan, kedua orang tua kami
sudah bercerai.
Mom
Justin memeluk ku erat. Air matanya tak terbendung.
"Ivonne,
bagaimana keadaannya?" tanya Dad Justin padaku yang sedang di peluk Mom
Pattie, Momnya Justin.
"aku
tak tahu. Dokter belum keluar dan memberitahu" ujarku di sela tangisku.
"maafkan
aku ini semua gara-gara aku. Andai aku melihat truk itu tak mungkin Justin jadi
seperti ini" kataku.
"sudahlah
tak apa. Ini musibah" ujar Dad Jeremy, dadnya Justin menenangkan ku.
Air
mata Caitlin tak dapat di bendung. Dia menarik ku dari pelukan Mom Pattie. Lalu
menamparku dengan sangat keras. Tak apalah aku ikhlas. Aku memang yang bersalah
di sini.
"Teman
macam apa kau ini? Kau lihat sekarang di dalam, sedang berjuang antara hidup
dan mati. Kau... Kau... Kau... Hanya minta maaf padaku, hm?" Lagi-lagi aku
mendapat tamparan di pipiku yang satunya.
"Hanya
itu yang bisa aku beri saat ini. Aku janji akan mengorbankan apa yang ku punya
untuknya asal dia bisa seperti sedia kala" terangku, hatiku sakit saat
mendengar ucapan Caitlin. seperti di remas, di pukul dan di hantam ribuan benda
tajam disana.
Dokter
keluar dari ruang UGD.
"mana
keluarga korban?" tanyanya aku, Mom Pattie, Dad Jeremy, dan Caitlin
bangkit dari tempat duduk menghapiri dokter itu.
"bagaimana
keadaan anak saya dok ?" tanya Mom Pattie khawatir.
Dokter
itu menunduk lesu."maaf, anak anda kehilangan penglihatanya dan jantungnya
rusak akibat terkena tekanan keras"
"apa?2"
tangis Mom Pattie semakin menjadi-jadi. "anakku buta? Anakku buta?!"
"maaf
Nyonya, dia harus cepat mendapat donor jantung kalau tidak, mungkin nyawanya
takan bisa di selamatkan" ujar dokter itu dan berlalu pergi. Mom Pattie
pingsan seketika. Begitupun dengan Caitlin. Mungkin dia shock mendengar
pacarnya takan bisa di selamatkan lagi. Tim medis rumah sakit membantu Mom
Pattie dan juga Caitlin.
Aku
menemui dokter yang menangani penyakitku. Kebetulan ini rumah sakit dimana aku
periksa tentang penyakitku. Aku berusaha merayu dokter itu agar mau mengoperasi
aku dan Justin. Tekad ku sudah bulat kali ini. Aku akan mendonorkan kedua mata
serta jantungku untuk Justin, orang yang ku cintai.
Aku
ingin menepati janjiku. Bukan hanya sekedar janji tapi ini adalah pengorbanan
cintaku untuknya. Orang yang ku cintai selama ini. Akhirnya dokter spesialist
kanker ku menyutuinya. Perjuangan yang sulit membujuk seorang dokter. Dokter
spesialist ku menemui dokter yang merawat Justin tadi. Dokter itu ikut
menyetujuinya. Operasi akan di lakukan besok.
*
* *
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar