*
* *
Dua
bulan kemudian, Justin dan Caity sudah jadian. Tentunya dengan bantuanku. Walau
membantu mereka membuatku sakit hati. Tapi tak apalah demi sahabat yang ku
cintai. Keluargaku semakin hari semakin hancur hanya karena wanita jalang yang
menjadi istri papaku. Papaku yang sedang mengurusi pekerjaanya di luar kota dan
jarang pulang belakangan ini tidak mengetahui kebejatan istrinya yang sekarang.
Hampir setiap hari dia membawa seorang pria ke rumah. Entah siapa dia. Aku tak
megengenalnya. Yang pasti namanya Nick.
Tadinya
ku kira mereka hanya sekdar teman. Hha... Setelah ku selidiki mereka memang
teman, temang yang tak biasa. Hidupku semakin rumit.
Malam
ini, Aku duduk di trotoar depan rumahku. Melipat kedua kakiku dan menempelkan
daguku di lutut. Aku termenung. Aku merindukan keluargaku yang dulu. Air mata
kembali menetes. Aku menangis. Hatiku sakit melihat Justin, orang yang ku
cintai ternyata dia mencintai orang lain. Orang tuaku, mereka hanya memikirkan
karier mereka. Dan wanita jalang itu hanya memikirkan kesenangannya saja.
Sudahlah cukup!! Inilah kenyataan yang harus ku terima.
Sebuah
mobil mewah terhenti tepat di hadapanku. Ini membuat lamunanku buyar. Orang
menyetir keluar lalu membuka pintu mobil yang satunya. Aku tahu mereka siapa.
Nick dan Elena. Nick menggendong Elena dari mobil. Dia membawanya ke kamar. Ke
kamar papaku tepatnya. Aku tak kaget melihatnya. Sering kali aku melihat mereka
berdua kerumahku dalam keadaan mabuk berat. Bahkan aku mendengar sendiri, Elena
meminta Nick untuk tidur bersamanya. Sungguh memilukan aku melihat kenyataan
hidup ini. Kadang aku berfikir mengapa Tuhan tak mengambil nyawa wanita ini?
Aku muak dengan sikap dan perilakunya. Aku tak tega melihat papaku di bohongi
seperti ini terus. Aku harus katakan padanya, kenyataan yang sesungguhnya.
*
* *
Pagi
- pagi aku sarapan, terlihat oleh ku si wanita jalang itu masih mengenakan
piyama tidurnya dan pria itu yang hanya mengenakan boxernya. Apa yang mereka
lakukan semalam? tanyaku. Aku bangkit dari kursiku dan pergi.
"dasar
anak tidak tahu sopan santun !!" teriaknya.
"kau
fikir kau ini istri yang sopan santun? Hah?!" bentak ku. "kau tidur
dengan pria lain di saat suamimu tak ada di rumah. Apa itu yang kau sebut
sopan? Heh! wanita jalang, aku saja anaknya tak pernah memasuki kamar kedua
orang tuaku sebelum mendapat izin dari yang bersangkutan. Sedangkan kau? Kau
malah menyuruhnya masuk. Kau fikir ini rumah nenek moyangmu yang bisa siapa dan
kapan saja orang luar masuk ke dalam. Dasar kau wanita MURAHAN!!"
kata ku yang mulai marah.
PLAAK
!!
Sebuah
tamparan kasar nan dahsyat menyapa pipiku. Sakit memang. Tapi aku senang bisa
mengatakan semuanya. Itu di luar kemampuanku. Baguslah dia menunjukan dirinya
yang sebenarnya. Aku pergi kesekolah. Pipi kiriku masih sakit bekas tamparannya
tadi. Bahkan merah lebam. Ya Tuhan, cobaan apa ini? tangisku.
Di
kelas aku hanya terpaku melihat kemesraan Justin dan Caitlin. Membuat hatiku
semakin sakit. Ada aja tingkah mereka berdua yang membuatku cemburu. Namun aku
mencoba mengikhlaskannya.
Teess..tees..
darah segar menetes dari hidungku. Oh God apa yg terjadi denganku? Hatiku
bertanya-tanya sendiri. Dengan cepat aku menghapus darah ini dengan tisue yang
ku bawa di tasku. Pelajaran di mulai, Justin duduk di sebelahku. Melihatku yang
termenung sejak tadi. "Hey, mengapa belum beres? Masalahnya belum
beres?" tanyanya. Aku tersenyum simpul padanya.
"tak
perlu di fikirkan aku. Urus saja urusanmu sendiri" jawabku jutek. Tak
biasanya aku bersikap jutek pada Justin, kecuali saat aku sedang marah padanya.
Dan kali ini entah karena marah atau karena cemburu dengan perhatian yang
Justin berikan pada Caitlin.
Justin
berusaha menatap wajahku yang lesu. Membereskan rambutku yang terurai
berantakan. Belakangan ini aku tak pernah mengurus diriku. Ku biarkan rambut
yang panjang menjadi kusut. Sayangnya sahabatku yang ini ingin selalu melihat
diriku yang dulu. Yang terurus dan penampilanku yang tidak kucel dan kumel. Dia
memang sudah seperti kakak bahkan litle Dad untukku. Dengan sabar dia merapikan
rambutku yang kusut juga menyisirnya. Aku suka perhatiannya. Perhatian inilah
yang aku mau dari kedua orang tuaku.
"aawww!"
teriakku keras. Justin menyentuh bekas tamparan dari wanita jalang itu. Aku
merintih kesakitan.
"kenapa
dengan pipimu? Apa yg terjadi denganmu?" tanyanya khawatir.
"ooh..
tak apa. Aku hanya terbentur meja waktu tidur" ujarku mengelak. Dia
memperhatikan bekas lukaku. Aku segera menutupinya dengan rambut ku. Dia
menghalanginya.
"ini
bekas tamparan !!" sertaknya keras. Dia menatapku dalam. "siapa yang
melakukan ini padamu ?" katanya yang mulai emosi. Air mata kembali
mengalir di pipiku bersamaan dengan darah segar yang menetes dari hidungku.
Namun, aku tak menyadari tetesan darah yang keluar. Justin memelukku hangat.
Mencoba menenangkanku. Tubuhku terkulai lemas. Aku tak sanggup untuk menopang
tubuhku sendiri. Aku pingsan di pelukan Justin. Justin yang mengetahui aku
pingsan segera membawaku keruang kesehatan sekolah. Bajunya berlumuran darah
begitupun dengan bajuku.
*
* *
created by Vivy Rahma
Nama : Julia Kartika
NPM : 14213716
Kelas : 2EA03
Tidak ada komentar:
Posting Komentar