Jumat, 05 Desember 2014

Me, You and Her #Part4


* * *

Dua bulan kemudian, Justin dan Caity sudah jadian. Tentunya dengan bantuanku. Walau membantu mereka membuatku sakit hati. Tapi tak apalah demi sahabat yang ku cintai. Keluargaku semakin hari semakin hancur hanya karena wanita jalang yang menjadi istri papaku. Papaku yang sedang mengurusi pekerjaanya di luar kota dan jarang pulang belakangan ini tidak mengetahui kebejatan istrinya yang sekarang. Hampir setiap hari dia membawa seorang pria ke rumah. Entah siapa dia. Aku tak megengenalnya. Yang pasti namanya Nick.
Tadinya ku kira mereka hanya sekdar teman. Hha... Setelah ku selidiki mereka memang teman, temang yang tak biasa. Hidupku semakin rumit.

Malam ini, Aku duduk di trotoar depan rumahku. Melipat kedua kakiku dan menempelkan daguku di lutut. Aku termenung. Aku merindukan keluargaku yang dulu. Air mata kembali menetes. Aku menangis. Hatiku sakit melihat Justin, orang yang ku cintai ternyata dia mencintai orang lain. Orang tuaku, mereka hanya memikirkan karier mereka. Dan wanita jalang itu hanya memikirkan kesenangannya saja. Sudahlah cukup!! Inilah kenyataan yang harus ku terima.

Sebuah mobil mewah terhenti tepat di hadapanku. Ini membuat lamunanku buyar. Orang menyetir keluar lalu membuka pintu mobil yang satunya. Aku tahu mereka siapa. Nick dan Elena. Nick menggendong Elena dari mobil. Dia membawanya ke kamar. Ke kamar papaku tepatnya. Aku tak kaget melihatnya. Sering kali aku melihat mereka berdua kerumahku dalam keadaan mabuk berat. Bahkan aku mendengar sendiri, Elena meminta Nick untuk tidur bersamanya. Sungguh memilukan aku melihat kenyataan hidup ini. Kadang aku berfikir mengapa Tuhan tak mengambil nyawa wanita ini? Aku muak dengan sikap dan perilakunya. Aku tak tega melihat papaku di bohongi seperti ini terus. Aku harus katakan padanya, kenyataan yang sesungguhnya.

* * *

Pagi - pagi aku sarapan, terlihat oleh ku si wanita jalang itu masih mengenakan piyama tidurnya dan pria itu yang hanya mengenakan boxernya. Apa yang mereka lakukan semalam? tanyaku. Aku bangkit dari kursiku dan pergi.

"dasar anak tidak tahu sopan santun !!" teriaknya.

"kau fikir kau ini istri yang sopan santun? Hah?!" bentak ku. "kau tidur dengan pria lain di saat suamimu tak ada di rumah. Apa itu yang kau sebut sopan? Heh! wanita jalang, aku saja anaknya tak pernah memasuki kamar kedua orang tuaku sebelum mendapat izin dari yang bersangkutan. Sedangkan kau? Kau malah menyuruhnya masuk. Kau fikir ini rumah nenek moyangmu yang bisa siapa dan kapan saja orang luar masuk ke dalam. Dasar kau wanita MURAHAN!!" kata ku yang mulai marah.

PLAAK !!

Sebuah tamparan kasar nan dahsyat menyapa pipiku. Sakit memang. Tapi aku senang bisa mengatakan semuanya. Itu di luar kemampuanku. Baguslah dia menunjukan dirinya yang sebenarnya. Aku pergi kesekolah. Pipi kiriku masih sakit bekas tamparannya tadi. Bahkan merah lebam. Ya Tuhan, cobaan apa ini? tangisku.

Di kelas aku hanya terpaku melihat kemesraan Justin dan Caitlin. Membuat hatiku semakin sakit. Ada aja tingkah mereka berdua yang membuatku cemburu. Namun aku mencoba mengikhlaskannya.

Teess..tees.. darah segar menetes dari hidungku. Oh God apa yg terjadi denganku? Hatiku bertanya-tanya sendiri. Dengan cepat aku menghapus darah ini dengan tisue yang ku bawa di tasku. Pelajaran di mulai, Justin duduk di sebelahku. Melihatku yang termenung sejak tadi. "Hey, mengapa belum beres? Masalahnya belum beres?" tanyanya. Aku tersenyum simpul padanya.

"tak perlu di fikirkan aku. Urus saja urusanmu sendiri" jawabku jutek. Tak biasanya aku bersikap jutek pada Justin, kecuali saat aku sedang marah padanya. Dan kali ini entah karena marah atau karena cemburu dengan perhatian yang Justin berikan pada Caitlin.

Justin berusaha menatap wajahku yang lesu. Membereskan rambutku yang terurai berantakan. Belakangan ini aku tak pernah mengurus diriku. Ku biarkan rambut yang panjang menjadi kusut. Sayangnya sahabatku yang ini ingin selalu melihat diriku yang dulu. Yang terurus dan penampilanku yang tidak kucel dan kumel. Dia memang sudah seperti kakak bahkan litle Dad untukku. Dengan sabar dia merapikan rambutku yang kusut juga menyisirnya. Aku suka perhatiannya. Perhatian inilah yang aku mau dari kedua orang tuaku.

"aawww!" teriakku keras. Justin menyentuh bekas tamparan dari wanita jalang itu. Aku merintih kesakitan.

"kenapa dengan pipimu? Apa yg terjadi denganmu?" tanyanya khawatir.

"ooh.. tak apa. Aku hanya terbentur meja waktu tidur" ujarku mengelak. Dia memperhatikan bekas lukaku. Aku segera menutupinya dengan rambut ku. Dia menghalanginya.

"ini bekas tamparan !!" sertaknya keras. Dia menatapku dalam. "siapa yang melakukan ini padamu ?" katanya yang mulai emosi. Air mata kembali mengalir di pipiku bersamaan dengan darah segar yang menetes dari hidungku. Namun, aku tak menyadari tetesan darah yang keluar. Justin memelukku hangat. Mencoba menenangkanku. Tubuhku terkulai lemas. Aku tak sanggup untuk menopang tubuhku sendiri. Aku pingsan di pelukan Justin. Justin yang mengetahui aku pingsan segera membawaku keruang kesehatan sekolah. Bajunya berlumuran darah begitupun dengan bajuku.

* * *



created by Vivy Rahma

Nama : Julia Kartika
NPM  : 14213716
Kelas  : 2EA03


Tidak ada komentar:

Posting Komentar