Selasa, 20 Januari 2015

Inilah Kisah Kami, Tuhan


"Aku percayakepada Allah Bapa yang Maha Kuasa, khalik langit dan bumi. Dan kepada Yesus Kristus anakNya yang tunggal Tuhan kita"

Ucap seorang pria di sudut sepi sebuah gereja yang kudus. Seluruh orang beribadah dengan khusu.

"Bismillahirahmannirahim. Alhamdulillahirabbi alamin"

Lembut suara wanita itu mengalun, menambah suasana hikmat di masjid kala itu.

"Yang dikandung dari Roh Kudus, lahir dari anak dara Maria. Yang menderita sengsara di bawah pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, mati dan dikuburkan, turun ke dalam Kerajaan Maut.”

Lanjut pria itu dengan mata tertutup, dia begitu menikmati persekutuannya dengan Tuhan yang mendengar seruan pengakuan iman rasuli dari bibirnya.

"Arrahman nirrahim. Malikiyau middin"

Bibir wanita itu masih saja mengamit haru, dia membayangkan bahwa
Tuhan sedang menatap wajahnya yang begitu cantik seusai dibasuh oleh air wudhu.

"Pada hari yang ketiga, bangkit pula dan diantara orang mati.  Naik ke sorga, duduk di sebelah kanan  Allah, Bapa yang Maha Kuasa. Dan dari sana ia akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan yang mati.”

Perlahan-lahan pria itu semakin tenggelam dalam suasana kudus dan menyejukkan yang membuat tubuhnya seakan-akan dipeluk seseorang, begitu hangat.

"Iyya kana'budu waiyya kanas ta'in. Ikhdinassiratal mustaqim."

Wanita itu mengarahkan hatinya bulat-bulat pada  Tuhan. Tuhan semakin tersenyum dengan lebar, menatap kecintaanNya semakin mencintaiNya dan menyadari keberadaanNya yang nyata.

"Aku percaya kepada  Roh Kudus. Gereja yang kudus dan am, persekutuan orang kudus. Pengampunan dosa. Kebangkitan daging. Dan hidup yang kekal."

Hatinya bergetar, bibirnya berhenti berkata-kata, pria itu merasakan kehadiran Tuhan begitu dekat, pria itu merasakan Tuhan sedang berada di sampingnya, sedang memeluknya.

"Siratallazi na an'am ta alaihim. Ghairil maghdu bialaihim. Waladdolin, Amin.”

Wanita itu menengadahkan kepalanya, hatinya bergetar dengan hebat, kembali dia rasakan kehadiran Tuhan di dekatnya, begitu lekat.

Pria itu menduduki bangkunya, sambil kembali menatap liturgi ibadah, hatinya mendesah, "lindungi kekasihku yang sedang berada di masjid kali ini, Tuhan.  Percayalah, dia juga mencintaiMu, dia hanya menyebut namaMu dengan sebutan yang berbeda.”

Seusai itu, ia mengucap surat  Al Ikhlas, hatinya bergetar, doa lirih terdengar dari hatinya, "Tuhan, kekasihku sedang beribadah di Gereja. Kau tahu? Dia juga mencintaiMu, sama seperti aku, meskipun tempat ibadahnya berbeda dengan tempat ibadahku."

Sang pria melanjutkan ibadahnya, memuji Tuhan dengan hati tulusnya.  Sang wanita bersujud menyembah, memuja Tuhan dengan dengan hatinya yang seluas samudera. Dalam hati, mereka mengamit resah, "Apa Tuhan melihat kisah kita?



created by @dwitasaridwita

Tidak ada komentar:

Posting Komentar