Hari
ini hari yang cerah, semoga wajahmu kan secerah siang ini. Kudapati dirimu
sedang termenung tenggelam dalam duniamu. Bagai terhanyut dalam kilatan cat
Glotex yang kau torehkan pada kanvas yang sudah menggambarkan sesuatu. Aha itu
aku, iya kan?
Aku
duduk disampingmu, memandangi lekuk wajahmu. Menikmati aroma semerbak yang
keluar dari lehermu. Aku sengaja tak bersuara atau menyapa, aku hanya tak ingin
mengganggu, mengganggu malaikat kecilku. Tubuhmu yang ringkih terlihat rapuh seolah
ingin terjatuh. Kumainkan beberapa helai rambut hitammu, kau masih asik dengan
duniamu.
Aku
masih menunggu, menatapmu dalam diam. Mungkin kau sadar, kau tersenyum senang
padaku dan berkata “Tunggulah sebentar”. Sungguh sampai kapanpun aku akan menunggumu.
Walaupun Matahari bersinar terik ketika menjelang tengah hari, atau dingin yang
menusuk saat tengah malam bahkan jika aku harus diguyur hujan badai, apapun
asal kau bersamaku. Itu cukup!
Kau
menyelesaikan lukisanmu, kulihat tanganmu penuh dengan warna biru, hijau atau
warna apapun, semua itu tidak menutupi indahnya tanganmu. Awalnya kukira itu
gambarku yang sedang tersenyum namun aku baru sadar. Kau melukis kita berdua,
sebagai pasangan kan maksudmu? Aku tau itu.
Kau
meletakkan lukisan itu diujung teras, lalu kembali duduk bersimpuh bersamaku.
Memandangi awan putih yang berarak dan saling mengejar dalam tempo yang lambat.
Kau berkata padaku bahwa kau melihat seekor ibu kelinci di langit biru. Lalu
kau memandangiku dengan tatapan yang tak kumengerti.
“Apa?”
pertanyaan itu terlontar secara refleks, dan jawabanmu hanya membuatku menarik
nafas “Kelinci adalah symbol Playboy. Jangan-jangan ini pertanda bahwa kau..”
Tuhan! Betapa polosnya gadis disampingku ini.
“Apa
jika aku melihat keranda di awan itu aku akan mati?” tanyaku sedikit sebal, dia
hanya membalas dengan satu pukulan pelan di pundakku. Hari sudah menjelah sore,
kuajak kau pergi ke tempat yang ku tau kau akan sangat menyukainya. Pasar
malam.
Kau
berganti pakaian menggunakan kimono ungu dengan bunga-bunga merah, rambut
hitammu kau gulung dengan sedikit terurai di bagian depan, entah kau memakai
jenis make up apa yang bisa membuat pipi menjadi merah. Namun
warna Merah glossom itu membuatku terpesona.
Pasar
malam itu diselenggarakan di lapangan dekat pusat kota Kyoto, aku menggandeng
tanganmu. Takkan kubiarkan lepas, setidaknya untuk saat ini. Kuajak kau untuk
sekedar duduk santai di bawah pohon sakura.
Kau
tidak terlalu suka sakura, sebenarnya aku juga tidak suka. Tapi..
Sekali
lagi terus kupandangi wajah lugumu, aku ingin otakku merekam semuanya malam
ini. Tak ingin dan tak kan pernah lupa.
Kita
tertawa bersama dengan dendang alunan instrument jepang kuno. Raut muka sebal
terpancar darimu saat kau taak pernah berhasil menangkap ikan koi kecil itu
dengan jaringmu. Rambutmu sedikit berantakkan saat kau menggeleng-gelengkan
kepalamu. Kau manis. Sangat manis,
Malam
telah larut sebenarnya aku tak ingin mengajakmu pulang tapi kau harus pulang.
Dalam perjalanan kerumahmu entah apa yang mengganggu pikiranmu, kau terdiam.
Aku tak ingin menyela kubiarkan kau larut dalam duniamu.
Kulihat
rumah kayu dengan lampion merah di gerbangnya. Itulah rumahmu, tak seperti
biasanya, kau malah tetap berdiri dan memandangku. Jika ini hari biasa mungkin
aku akan mengelak dari pandanganmu, tapi ini lain. Aku tetap ingin menatapmu,
menelaah jauh ke mata coklatmu, aku seakan bisa melihat hari ceriamu kelak. Aku
tersadar saat kau berkata “kau tak akan meninggalkanku kan?” pertanyaan itu
menohok hatiku. Menamparku dan seakan membuatku terpental ke dasar hatiku.
“menurutmu?”
kucoba untuk meyakinkannya dengan memeluknya, “bunga sakura? Bukankah kau
pernah berkata..”
“sstt
bisakah kau diam agar aku bisa leluasa memelukmu?” kuhentikan
perkataannya, “aku harus pergi” kugenggam tangannya, ini mungkin yang terakhir.
Sungguh aku tak bisa mengatakannya, kau boleh membenciku karena aku lelaki
pengecut yang tak berani untuk berterus terang. Dan hanya memberikan tanda
untuk melihat gugurnya bunga sakura, aku ingat aku pernah berkata bahwa
gugurnya bunga sakura adalah tanda perpisahan. Tak kusangka kau masih ingat,
maaf. Nyaliku menciut saat kalimat aku harus pergi tertahan
ditenggorokanku. Aku tak berani, aku tak punya nyali melihat kau menagis,
ataupun bersedih karenaku. Sungguh bukan berarti melupakanmu. Aku memang
meninggalkanmu, untuk saat ini. Tapi aku janji akan menemui mu kelak. Ya
kelak..
Nama
: Julia Kartika
NPM
: 14213716
Kelas
: 2EA03

Tidak ada komentar:
Posting Komentar